Sabtu, 17 Oktober 2015

PERMINTAAN TERAKHIR



Seumur hidup aku tak begitu sering melakukan pencapaian-pencapaian seperti yang sering orang-orang cantumkan di dalam surat lamaran pekerjaan. Aku termasuk tipikal orang yang lebih suka mengejar hal-hal yang tak suka dikejar oleh orang-orang pada umumnya. Persetan dengan prestasi akademik, apalah itu angka-angka statistik dalam sertifikat, hirearki jabatan, penghargaan, kehormatan, ketenaran, atau omong kosong-omong kosong pencapaian materil yang lainnya. Bagiku, semua tetek bengek itu adalah kekonyolan sosial, absurditas yang nihil sensasi, pakem orientasi yang obsesif atau sederhananya, tahi kerbau.
Aku lebih suka mengejar hal-hal yang berbeda, yang membangkitkan gairah, merangsang gelora manusiawi, memicu deras adrenalin, yang menabrak moralitas dan norma. Oh betapa nyata dan seduktifnya sensasi dari kegiatan-kegiatan itu. Dan di antara semuanya, satu hal yang tak bisa aku tahankan, benar-benar aku tak berdaya sampai ketagihan. Oh ayolah tak usah pura-pura, semua laki-laki normal pasti mengadiksi kegiatan ini, nah iya benar, berciuman. Oh, jangan tanyakan seberapa tinggi intensitas aku menyukai kegiatan saling melumat bibir ini. Sebab aku akan membayar berapa pun untuk melakukannya, meski hanya sedetik saja. Aku tidak berlebihan.
Tak terhitung sudah berapakali aku berciuman selama hidup. Tanpa bermaksud menyombongkan diri bibirku sudah pernah merasakan segala jenis bibir. Mulai dari bibir tebal, bibir tipis, bibir kecil, bibir merah, bibir kering, bibir pecah-pecah, bibir manado, bibir perawan, bibir janda, atau yang terakhir baru-baru ini bahkan, bibir istri orang. Meskipun jujur kuberitahu, rasanya sama saja-yang berbeda cuma teksturnya, konturnya atau liurnya, tapi kuakui memang aku tetap ketagihan.
Dan kali ini adalah pengalaman berciuman yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan. Tuhan memberkatiku. Kali ini rasanya berbeda, debar di dada yang aku rasakan, jauh lebih kencang ketimbang biasanya. Kali ini, aku diberi kesempatan berciuman dengan bibir AK47, senjata mesin yang termahsyur itu. Tidak, aku tidak bercanda. Di depanku sekarang, berdiri dengan tegap seorang pensiunan tentara yang sedang kesetanan. Sedikit saja ada gerakan tambahan, ia tidak akan tanggung-tanggung memberondong peluru ke dalam tenggorokanku.
Tak ada siapa-siapa di ruangan remang dan lembab ini. Hanya ada pensiunan tentara yang sedang kesetanan, dan aku yang sedang gemetaran. Bukan karena takut, bukan. Tapi karena dingin, iya, karena kedinginan. Sekujur tubuhku basah kuyup. Oh iya, aku sedang telanjang. Pensiunan tentara itu, selain kesetanan tampaknya juga gila.
Ia meletakkan es balok di atas kepalaku dan membiarkannya mencair di sana dengan sendirinya, sambil tertawa-tawa. Bukan cuma itu, ia juga mencabut kuku-kukuku, mencambuk punggungku, meremas kemaluanku, dan menyetrum leherku, juga sambil tertawa-tawa. Gila.
Tampaknya ia tak mau begitu saja membunuhku, ia ingin aku merasakan sakit yang tak terperi sebelum aku mati. Ia salah, aku sama sekali tak merasa sakit, meskipun rasanya sakit. Kubalas juga dengan tertawa-tawa, membuatnya kesal dan melakukan itu semua sekali lagi, berulang-ulang.
“Kau kira aku bercanda?” hardiknya sambil menjambak rambutku. Memaksaku menatap wajahnya yang penuh codet.
Aku sekali lagi tertawa. Bukannya tak bisa berkata-kata, tapi memang ingin membuatnya jengkel. Dalam kondisi tangan dan kaki terikat seperti ini, mempermainkanya adalah satu-satunya perlawanan yang logis. Aku tak sudi di nisanku nanti tertulis “Orang ini mati tanpa perlawanan”. Ia menghajarku habis-habisan. Seandainya ada cermin di sini, mungkin sekarang aku sudah tidak mampu lagi mengenali rupaku.
“Bagaimana rasanya moncong baja ini? Tak kalah menggairahkan bukan?” ia mencoba mengintimidasi dengan menggoyang-goyangkan moncong senapan itu di dalam bibirku, menggaris goresan-goresan merah perih di gusiku. Rasanya menggelikan, sama sekali tidak menggairahkan.
“Ayo, ayo balas ciumannya, balas, lumat moncongnya, habiskan!” ia masih melakukan hal yang sama. Aku curiga justru ia yang bergairah.
“Bagaimana rasanya? Rasanya sama bukan, sama seperti waktu kau melumat bibir istriku? Atau justru moncong ini lebih membuatmu bergairah? Ayo katakan, brengsek!” ia menutupnya dengan sodokan di tenggorokanku. Aku tersedak. Batuk. Pingsan.
Tapi orang gila ini memang tidak ingin membiarkanku bernafas sedetik saja. Ia mengguyur kepalaku dengan air agar aku sadar, terjaga. Tapi kali ini, moncong senapan itu sudah tidak bermukim di bibirku. Ia sengaja menariknya untuk mendengarkanku menjawab pertanyaannya. Aku sedikit tersenyum, mengangkat kepala dan menatap wajahnya dengan tatapan yang menjajah. Aku ingin ia merasakan apa yang aku rasakan. Menyiksa matanya dengan tatapan. Dan aku berhasil, ia kelihatan takut meski cepat ia alihkan dengan ekspresi bengisnya. Aku tertawa, lagi-lagi. rupanya aku masih mampu memberikan perlawanan. Ia tak tahan dan mencoba membalikkan keadaan.
“Baiklah, aku sudah tak punya waktu bermain-main lagi. Sudah saatnya aku menghabisimu dasar laki-laki biadab tak bermoral!” ia meludahi wajahku.
“Tapi jujur, kuakui kau adalah orang yang berani, sebab sebelumnya tak pernah ada yang berani menggoda istriku mengingat mereka tahu bahwa suaminya adalah aku yang perkasa ini. Hanya kau satu-satunya. Dan kau tahu? aku sangat mengagumi orang yang berani. Makanya, untuk menghormati keberanianmu, aku ingin memberimu satu kesempatan untuk menyampaikan permintaan terakhirmu. Jadi, sebutkan permintaan terakhirmu, percayalah aku akan mengabulkannya.” ia mengakhiri pidato terakhirnya untukku.
Dengan mantap aku pun menyebutkan permintaan terakhirku, setelah puas tertawa. Aku menatapnya cukup lama dan,
“Aku ingin mencium bibirmu!”
Mendadak moncong senapan mesin AK47 itu dengan gesit kembali meringsek masuk ke dalam bibirku. Dan tak ada lagi yang kudengar setelah bunyi desingan peluru yang menghujan dan bunyi dentingan selongsong tembaga yang membentur lantai.


*Anhar D. Putra
5 ilusi: 2015 Seumur hidup aku tak begitu sering melakukan pencapaian-pencapaian seperti yang sering orang-orang cantumkan di dalam surat lamaran pek...

Aku Ingin Jadi Koruptor



Kalau ada yang tanya
Apa cita-citamu?
Yaa ku jawab saja
Aku ingin jadi koruptor, wong aku pengen hidup enak!

Memang ada koruptor yang sengsara?
Aku ingin jadi koruptor
Tapi, Ayahku bilang harus kaya dulu biar bias jadi koruptor
Harus jadi sarjana dulu
Koruptor itu pada kaya katanya
Tidur nyenyak dijaga polisi
Kamar sejuk pake AC
Makan enak pake ayam

Andai orang miskin bias jadi koruptor
Aku ingin jadi koruptor
Makan enak
Tidur nyenyak
Terkenal, muncul di TV

Kalau aku jadi koruptor
Akan ku bunuh koruptor-koruptor lainnya
Biar aku sendiri yang hidup enak
Bikin sekolah sendiri, biar tidak bayar, punya bangku bagus, buku banyak
Bikin taman bermain, biar tidak digusur
Bikin rumah genteng kokoh, biar tidak kehujanan, biar tidak kepanasan

Aku ingin jadi koruptor !


Resqy Amalia
Mahasiswi Psikologi UNM angkatan 2014
5 ilusi: 2015 Kalau ada yang tanya Apa cita-citamu? Yaa ku jawab saja Aku ingin jadi koruptor, wong aku pengen hidup enak! Memang ada korup...

NATALIA (part 2)



Senyum itu, mata itu, aku tak pernah lupa. Aku membenci orang ini seperti setan membenci adam. Aku akan balas dendam, tak perlu menunggu lama. Maafkan aku hasyim, ayahmu harus mati malam ini.
Hasyim mengacaukan lamunanku tentang cara kematian ayahnya dengan menarik tanganku. Mengenalkanku ke ayahnya itu sebagai calon istrinya. Aku hanya bersandiwara, mencium tangannya sambil tersenyum semanis mungkin. Orang tua itu percaya, entrah sadar atau tidak dia sedang berjabat tangan dengan malaikat pencabut nyawanya.

Kami kemudian masuk, rumah hasyim cukup besar. Ada banyak foto yang dipajang memenuhi dinding ruangan. Dan semakin aku memperhatikan setiap foto. Tubuhku langsung bergetar, entah menahan tangis atau amarah. Yah, papa Hasyim juga seorang polisi. Aku semakin ingat kata kata ibu dan semakin yakin orang tua ini adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kematian keluargaku. Aku segera ingin balas dendam, dan seakan penghuni langit ikut mengaminkan, hasyim ingin keluar, mengunjungi teman lamanya katanya. Ia membiarkanku dirumah saja istirahat, takut kecapaian. Aku senang senang saja, karena berarti kematian ayahnya bisa dipercepat, menjadi sore ini.

Ruangan besar itu kemudian menyisakan aku dan orang tua itu, hasyim sudah pergi setengah jam yang lalu. Hujan sedang turun dengan lebat, langit betul betul sedang mendukungku. Kami berdua bercerita, kupancing ia menceritakan pengalamannya semasa menjadi polisi. Aku sedang mengupas mangga, hasyim membelinya di jalan. Katanya ayahnya suka mangga, baguslah. Setidaknya sebelum mati dia bisa merasakan buah kesukaannya.

Ceritanya langsung menarik perhatianku ketika 5 tahun yang lalu ia bertemu dengan bandar narkoba besar di kota. Katanya orang itu sangat baik tetapi bodoh. Kebodohan yang ia tertawakan karena begitu mudahnya ia percaya orang. Orang tua itu kemudian menyebut nama bandar narkoba yang disebutnya bodoh tersebut. Namanya adalah ferdinand. Aku mengenal baik pemilik nama itu. Bahkan nama itu adalah satu satunya nama yang tertera di akte lahirku setelah namaku sendiri, NATALIA FERDINAND. Itulah nama lengkapku, dan orang tua depanku ini sedang membicarakan ayahku.

Setiap cerita yang keluar dari mulutnya membuatku ingin muntah di wajahnya. Dengan sangat bodohnya orang tua ini bercerita bagaimana ia memeras bandar narkoba itu, menjamin keselamatan bisnisnya tetapi kemudian menusukknya dari belakang. Orang tua itu tertawa begitu senang, kesempatan emas tidak boleh disiakan katanya. Setelah puas memeras bandar tersebut ia kemudian ingin melaporkan bandar tersebut ke atasannya agar ia bisa naik pangkat. Orang tua ini begitu licik, pisau berukuran sedang ditanganku kugenggam erat, aku menunggu pengakuan soal penembakan keluargaku. Dan benar saja orang tua ini mungkin terlalu percaya padaku sehingga menceritakan semuanya.

Malam itu ia menerima telfon dari sang bandar, ayahku. Ayahku mengancamnya akan menyeretnya juga kedalam penjara jika ayahku ditangkap. Ia begitu panik, jika ketahuan ia akan segera di pecat dan juga akan masuk penjara. Kesesokan paginya ia bersama hasyim, saat itu hasyim sudah menjadi polisi, pergi kerumah sang bandar, rumahku. Bermaksud untuk kembali memeras ayahku dan berjanji tidak akan melaporkannya. Tapi ayahku menolak, bersikeras akan melaporkan orang tua ini ke atasannya. Yah, itu adalah pengaruh ibuku. Ibuku bersikeras tidak ingin lagi diperas oleh polisi tersebut dan lebih rela jika harus dipenjara. Ayahku pun ingin berhenti menajdi bandar narkoba atas bujukan ibuku.

Mendengar hal itu membuat orang tua ini begitu marah, ia kemudian memukul ayahku dan menodongkannya pistol. Hasyim juga secara langsung menodongkan pistol ke arah ibu dan pembantuku yang kebetulan ada dalam ruangan itu. Tubuhku lagi lagi bergetar, aku tahu kali ini amarah yang menyelimutinya.
Sebelum orang tua ini hendak menyelesaikan ceritanya, pisauku sudah kutancapkan teapt dilehernya. Merobek nadi, orang tua itupun terjatuh. Ia sudah kesulitan bernapas dengan baik, darah mengucur deras dibadannya. Matanya melotot kaget. Tubuhnya kejang, dari mulutnya juga keluar darah. Saat tubuhnya semakin lemas karena kekurangan darah, kudatangi wajahnya, kudekatkan bibirku ditelinganya. Aku bebisik, “Ini aku. Malaikat pencabut nyawamu. Namaku Natalia Ferdinand. Salam kenal. Tunggu aku dineraka.”
 
Ekspresi dari wajahnya begitu terkejut, ia seakan akan tahu alasan kenapa ia dibunuh olehku. Dengan mata yang melotot dan mulut yang terbuka orang tua itu menghembuskan napas terakhirnya.
Aku berdiri. Bajuku penuh darah. Tak ada senyum. Pandanganku kosong. Segera kupindahkan jenazah orang tua itu ke dapur, kemudian kubersihkan bekas darahnya di dapur, dan bergegas mengganti baju sebelum hasyim pulang. Yah, masih ada satu urusan lagi dan semuanya akan selesai.

Tak lama hasyim pulang, iya sedikit basah akibat hujan. Aku kemudian menarik tangannya masuk ke kamar. Hasyim terkejut.
“Ada apa sayang? Kok narik gitu?”, katanya penuh ragu sambil tersenyum.
Kupandang dia, kemudian kucium bibirnya. Awalnya ia sempat kaget tapi kemudian ia membalas ciumanku. Kami saling berciuman disertai rabaan, ketika kurasa nafsu hasyim sudah dipuncak, kulepaskan ciuman dari bibirnya. Kemudian kuberbisik pelan
“Aku lagi pengen. Cuaca sedang dingin, ayah sudah tidur dengan tenang. Kamu tenang saja. Aku ingin memberikan kamu permainan paling hebat kali ini. Permaianan yang akan kamu kenang sampe mati.”

Hasyim tersenyum, kemudian kembali mencium bibirku. Ia kemudian mengangkat badanku menuju dinding kamar. Bajuku dibuka paksa, dibuangnya ke sembarang tempat. Aku pun membalasnya, baju dan celananya dengan cepat kutanggalkan. Hanya menyisakan pakaian dalam, hasyim semakin bernafsu, ditekannya aku semakin rapat ke tembok. Buku buku berjatuhan akibat hentakan tubuhku pada rak rak buku. Nafasnya semakin memburu.
Aku tersenyum, di dalam hati aku sangat mencintai hasyim tetapi dendamku harus dibalas. Salahakan ayahmu jika kau bertemu dengannya di neraka, ini semua salahnya.
Permainan kami menjadi semakin liar seirama dengan hujan yang semakin deras. Tubuhku dan tubuhnya sudah telanjang, kulit tubuh kami sudah saling beradu, keringat kami telah menyatu, dan teriakanku semakin tak terkendali.

Hampir setangah jam kami “bermain” sebelum hasyim mencapai klimaksnya. Ia kemudian ke kamar mandi menyisakan aku yang tengah terbaring lemah di atas kasur. Aku yang tengah bertelanjang kemudian turun dari atas tempat tidur. Mengambil pistol hasyim yang terjatuh dilantai saat aku melepaskan celananya. Aku cukup mahir menggunakan pistol, hasyim pernah mengajakku ikut latihan menembak, katanya istri polisi harus tahu pegang pistol buman cuman tahu pegang “senjata” suami. Tak kusangka ilmu menembak itu akan kupakai sekarang.

Dengan badan telanjang, aku memegang pistol mengarahkannya ke arah kamar mandi. Tak lama hasyim sudah selesai membersihkan diri, dari dalam kamar mandi ia teriak.
“Nat, Natalia. Kamu mau mandi bareng atau aku mandi sendiri?”

Tak mendapat jawaban, hasyim keluar dari kamar mandi. Dan langsung terkejut melihat aku yang tengah telanjang mengarahkan psitol ke arahnya. Hasyim juga sedang bertelanjang. Wajahnya begitu kaget, seolah meminta penjelasan.

“Aku mencintaimu hasyim, teramat sangat. Sampe kutahu kau juga terlibat dengan kematian bandar narkoba bernama Ferdinand. Oh ya, nama lengkapku Natalia Ferdinand. Dan benar dia ayahku.”

Sebelum sempat hasyim bereaksi dengan ucapanku, timah panah sudah meluncur mulus menembus dadanya. Membuat tubuh telanjangnya roboh seketika. Tak ada lagi suara. Peluru itu tepat menembus jantungnya. Menghentikan pompa darah keseluruh tubuh, membuat sang pemilik tubuh akan menghembuskan nafas terakhirnya.
Aku memandang hasyim sunyi. Perasaanku terbawa pergi peluru yang menembus jantung hasyim, menyatu dengan tubuh dan darahnya. Cintaku telah kekal dalam raganya.

Aku memandang sekeliling, kamar berantakan, tak ada cahaya. Hujan sudah perlahan redah. Tak ada harapan yang kusisakan, semangat hidup tak ada lagi. Kuarahkan moncong pistol dipelipis kananku.
Aku kuciptakan bunyi terakhir yang kudengar. Yang akan tergiang keras dalam ruangan. Ayah, aku membencimu. Tapi dendammu sudah tuntas. Ibu aku meencitaimu. Tunggu aku, semoga kita tak berjumpa di neraka.

Pelatuk pistol kutekan, suara menggema di penjuru ruangan. Membuat tubuhku jatuh berasandarkan darah. Aku senang dengan cara matiku.


END*


Shaleh Afif Angga
Mahasiswa Psikologi UNM angkatan 2012 
5 ilusi: 2015 Senyum itu, mata itu, aku tak pernah lupa. Aku membenci orang ini seperti setan membenci adam. Aku akan balas dendam, tak perlu menungg...

Menunggu Jawab



Harus dengan sebutan apa?
Arus angin menyapa lebih dulu
Membawa jiwa dalam tahta
Seraya permaisuri kerajaan tak tertangguhkan
Menyeret dalam bahagia
Sorak-sorai terdengar dengan lafas
Serta bahagia teruntuk pekat kegelapan
Dunia  begitu fana dalam sandiwara
Menggelitik seketika dalam pikir nan waras

Harus dengan sebutan apa?
Hidup  tidak sedang terlanjur dalam kefanaan pikir
Hidup tidak sedang berlanjut dalam kefanaan rasa
Tapi, hidup sedang melarat dalam tanya

Tahta telah runtuh dalam singgasana
Dongeng tentang kerajaan makmur
Kini telah diadopsi oleh kebenaran
Kebenaran datang dengan otak yang tak bersaraf
Tapi, kehidupan datang menyeret suara lantang
Harus dengan sebutan apa kemerdekaan dalam kebenaran maknanya?


Andi Mekar
Mahasiswi Psikologi UNM angkatan 2013 
5 ilusi: 2015 Harus dengan sebutan apa? Arus angin menyapa lebih dulu Membawa jiwa dalam tahta Seraya permaisuri kerajaan tak tertangguhkan M...
< >