Sabtu, 17 Oktober 2015

NATALIA (part 2)



Senyum itu, mata itu, aku tak pernah lupa. Aku membenci orang ini seperti setan membenci adam. Aku akan balas dendam, tak perlu menunggu lama. Maafkan aku hasyim, ayahmu harus mati malam ini.
Hasyim mengacaukan lamunanku tentang cara kematian ayahnya dengan menarik tanganku. Mengenalkanku ke ayahnya itu sebagai calon istrinya. Aku hanya bersandiwara, mencium tangannya sambil tersenyum semanis mungkin. Orang tua itu percaya, entrah sadar atau tidak dia sedang berjabat tangan dengan malaikat pencabut nyawanya.

Kami kemudian masuk, rumah hasyim cukup besar. Ada banyak foto yang dipajang memenuhi dinding ruangan. Dan semakin aku memperhatikan setiap foto. Tubuhku langsung bergetar, entah menahan tangis atau amarah. Yah, papa Hasyim juga seorang polisi. Aku semakin ingat kata kata ibu dan semakin yakin orang tua ini adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kematian keluargaku. Aku segera ingin balas dendam, dan seakan penghuni langit ikut mengaminkan, hasyim ingin keluar, mengunjungi teman lamanya katanya. Ia membiarkanku dirumah saja istirahat, takut kecapaian. Aku senang senang saja, karena berarti kematian ayahnya bisa dipercepat, menjadi sore ini.

Ruangan besar itu kemudian menyisakan aku dan orang tua itu, hasyim sudah pergi setengah jam yang lalu. Hujan sedang turun dengan lebat, langit betul betul sedang mendukungku. Kami berdua bercerita, kupancing ia menceritakan pengalamannya semasa menjadi polisi. Aku sedang mengupas mangga, hasyim membelinya di jalan. Katanya ayahnya suka mangga, baguslah. Setidaknya sebelum mati dia bisa merasakan buah kesukaannya.

Ceritanya langsung menarik perhatianku ketika 5 tahun yang lalu ia bertemu dengan bandar narkoba besar di kota. Katanya orang itu sangat baik tetapi bodoh. Kebodohan yang ia tertawakan karena begitu mudahnya ia percaya orang. Orang tua itu kemudian menyebut nama bandar narkoba yang disebutnya bodoh tersebut. Namanya adalah ferdinand. Aku mengenal baik pemilik nama itu. Bahkan nama itu adalah satu satunya nama yang tertera di akte lahirku setelah namaku sendiri, NATALIA FERDINAND. Itulah nama lengkapku, dan orang tua depanku ini sedang membicarakan ayahku.

Setiap cerita yang keluar dari mulutnya membuatku ingin muntah di wajahnya. Dengan sangat bodohnya orang tua ini bercerita bagaimana ia memeras bandar narkoba itu, menjamin keselamatan bisnisnya tetapi kemudian menusukknya dari belakang. Orang tua itu tertawa begitu senang, kesempatan emas tidak boleh disiakan katanya. Setelah puas memeras bandar tersebut ia kemudian ingin melaporkan bandar tersebut ke atasannya agar ia bisa naik pangkat. Orang tua ini begitu licik, pisau berukuran sedang ditanganku kugenggam erat, aku menunggu pengakuan soal penembakan keluargaku. Dan benar saja orang tua ini mungkin terlalu percaya padaku sehingga menceritakan semuanya.

Malam itu ia menerima telfon dari sang bandar, ayahku. Ayahku mengancamnya akan menyeretnya juga kedalam penjara jika ayahku ditangkap. Ia begitu panik, jika ketahuan ia akan segera di pecat dan juga akan masuk penjara. Kesesokan paginya ia bersama hasyim, saat itu hasyim sudah menjadi polisi, pergi kerumah sang bandar, rumahku. Bermaksud untuk kembali memeras ayahku dan berjanji tidak akan melaporkannya. Tapi ayahku menolak, bersikeras akan melaporkan orang tua ini ke atasannya. Yah, itu adalah pengaruh ibuku. Ibuku bersikeras tidak ingin lagi diperas oleh polisi tersebut dan lebih rela jika harus dipenjara. Ayahku pun ingin berhenti menajdi bandar narkoba atas bujukan ibuku.

Mendengar hal itu membuat orang tua ini begitu marah, ia kemudian memukul ayahku dan menodongkannya pistol. Hasyim juga secara langsung menodongkan pistol ke arah ibu dan pembantuku yang kebetulan ada dalam ruangan itu. Tubuhku lagi lagi bergetar, aku tahu kali ini amarah yang menyelimutinya.
Sebelum orang tua ini hendak menyelesaikan ceritanya, pisauku sudah kutancapkan teapt dilehernya. Merobek nadi, orang tua itupun terjatuh. Ia sudah kesulitan bernapas dengan baik, darah mengucur deras dibadannya. Matanya melotot kaget. Tubuhnya kejang, dari mulutnya juga keluar darah. Saat tubuhnya semakin lemas karena kekurangan darah, kudatangi wajahnya, kudekatkan bibirku ditelinganya. Aku bebisik, “Ini aku. Malaikat pencabut nyawamu. Namaku Natalia Ferdinand. Salam kenal. Tunggu aku dineraka.”
 
Ekspresi dari wajahnya begitu terkejut, ia seakan akan tahu alasan kenapa ia dibunuh olehku. Dengan mata yang melotot dan mulut yang terbuka orang tua itu menghembuskan napas terakhirnya.
Aku berdiri. Bajuku penuh darah. Tak ada senyum. Pandanganku kosong. Segera kupindahkan jenazah orang tua itu ke dapur, kemudian kubersihkan bekas darahnya di dapur, dan bergegas mengganti baju sebelum hasyim pulang. Yah, masih ada satu urusan lagi dan semuanya akan selesai.

Tak lama hasyim pulang, iya sedikit basah akibat hujan. Aku kemudian menarik tangannya masuk ke kamar. Hasyim terkejut.
“Ada apa sayang? Kok narik gitu?”, katanya penuh ragu sambil tersenyum.
Kupandang dia, kemudian kucium bibirnya. Awalnya ia sempat kaget tapi kemudian ia membalas ciumanku. Kami saling berciuman disertai rabaan, ketika kurasa nafsu hasyim sudah dipuncak, kulepaskan ciuman dari bibirnya. Kemudian kuberbisik pelan
“Aku lagi pengen. Cuaca sedang dingin, ayah sudah tidur dengan tenang. Kamu tenang saja. Aku ingin memberikan kamu permainan paling hebat kali ini. Permaianan yang akan kamu kenang sampe mati.”

Hasyim tersenyum, kemudian kembali mencium bibirku. Ia kemudian mengangkat badanku menuju dinding kamar. Bajuku dibuka paksa, dibuangnya ke sembarang tempat. Aku pun membalasnya, baju dan celananya dengan cepat kutanggalkan. Hanya menyisakan pakaian dalam, hasyim semakin bernafsu, ditekannya aku semakin rapat ke tembok. Buku buku berjatuhan akibat hentakan tubuhku pada rak rak buku. Nafasnya semakin memburu.
Aku tersenyum, di dalam hati aku sangat mencintai hasyim tetapi dendamku harus dibalas. Salahakan ayahmu jika kau bertemu dengannya di neraka, ini semua salahnya.
Permainan kami menjadi semakin liar seirama dengan hujan yang semakin deras. Tubuhku dan tubuhnya sudah telanjang, kulit tubuh kami sudah saling beradu, keringat kami telah menyatu, dan teriakanku semakin tak terkendali.

Hampir setangah jam kami “bermain” sebelum hasyim mencapai klimaksnya. Ia kemudian ke kamar mandi menyisakan aku yang tengah terbaring lemah di atas kasur. Aku yang tengah bertelanjang kemudian turun dari atas tempat tidur. Mengambil pistol hasyim yang terjatuh dilantai saat aku melepaskan celananya. Aku cukup mahir menggunakan pistol, hasyim pernah mengajakku ikut latihan menembak, katanya istri polisi harus tahu pegang pistol buman cuman tahu pegang “senjata” suami. Tak kusangka ilmu menembak itu akan kupakai sekarang.

Dengan badan telanjang, aku memegang pistol mengarahkannya ke arah kamar mandi. Tak lama hasyim sudah selesai membersihkan diri, dari dalam kamar mandi ia teriak.
“Nat, Natalia. Kamu mau mandi bareng atau aku mandi sendiri?”

Tak mendapat jawaban, hasyim keluar dari kamar mandi. Dan langsung terkejut melihat aku yang tengah telanjang mengarahkan psitol ke arahnya. Hasyim juga sedang bertelanjang. Wajahnya begitu kaget, seolah meminta penjelasan.

“Aku mencintaimu hasyim, teramat sangat. Sampe kutahu kau juga terlibat dengan kematian bandar narkoba bernama Ferdinand. Oh ya, nama lengkapku Natalia Ferdinand. Dan benar dia ayahku.”

Sebelum sempat hasyim bereaksi dengan ucapanku, timah panah sudah meluncur mulus menembus dadanya. Membuat tubuh telanjangnya roboh seketika. Tak ada lagi suara. Peluru itu tepat menembus jantungnya. Menghentikan pompa darah keseluruh tubuh, membuat sang pemilik tubuh akan menghembuskan nafas terakhirnya.
Aku memandang hasyim sunyi. Perasaanku terbawa pergi peluru yang menembus jantung hasyim, menyatu dengan tubuh dan darahnya. Cintaku telah kekal dalam raganya.

Aku memandang sekeliling, kamar berantakan, tak ada cahaya. Hujan sudah perlahan redah. Tak ada harapan yang kusisakan, semangat hidup tak ada lagi. Kuarahkan moncong pistol dipelipis kananku.
Aku kuciptakan bunyi terakhir yang kudengar. Yang akan tergiang keras dalam ruangan. Ayah, aku membencimu. Tapi dendammu sudah tuntas. Ibu aku meencitaimu. Tunggu aku, semoga kita tak berjumpa di neraka.

Pelatuk pistol kutekan, suara menggema di penjuru ruangan. Membuat tubuhku jatuh berasandarkan darah. Aku senang dengan cara matiku.


END*


Shaleh Afif Angga
Mahasiswa Psikologi UNM angkatan 2012 
5 ilusi: NATALIA (part 2) Senyum itu, mata itu, aku tak pernah lupa. Aku membenci orang ini seperti setan membenci adam. Aku akan balas dendam, tak perlu menungg...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

< >