Senyum itu, mata itu, aku tak pernah
lupa. Aku membenci orang ini seperti setan membenci adam. Aku akan balas
dendam, tak perlu menunggu lama. Maafkan aku hasyim, ayahmu harus mati malam
ini.
Hasyim mengacaukan lamunanku tentang
cara kematian ayahnya dengan menarik tanganku. Mengenalkanku ke ayahnya itu
sebagai calon istrinya. Aku hanya bersandiwara, mencium tangannya sambil
tersenyum semanis mungkin. Orang tua itu percaya, entrah sadar atau tidak dia
sedang berjabat tangan dengan malaikat pencabut nyawanya.
Kami kemudian masuk, rumah hasyim cukup
besar. Ada banyak foto yang dipajang memenuhi dinding ruangan. Dan semakin aku
memperhatikan setiap foto. Tubuhku langsung bergetar, entah menahan tangis atau
amarah. Yah, papa Hasyim juga seorang polisi. Aku semakin ingat kata kata ibu
dan semakin yakin orang tua ini adalah orang yang paling bertanggung jawab atas
kematian keluargaku. Aku segera ingin balas dendam, dan seakan penghuni langit
ikut mengaminkan, hasyim ingin keluar, mengunjungi teman lamanya katanya. Ia
membiarkanku dirumah saja istirahat, takut kecapaian. Aku senang senang saja,
karena berarti kematian ayahnya bisa dipercepat, menjadi sore ini.
Ruangan besar itu kemudian menyisakan
aku dan orang tua itu, hasyim sudah pergi setengah jam yang lalu. Hujan sedang
turun dengan lebat, langit betul betul sedang mendukungku. Kami berdua
bercerita, kupancing ia menceritakan pengalamannya semasa menjadi polisi. Aku
sedang mengupas mangga, hasyim membelinya di jalan. Katanya ayahnya suka
mangga, baguslah. Setidaknya sebelum mati dia bisa merasakan buah kesukaannya.
Ceritanya langsung menarik perhatianku
ketika 5 tahun yang lalu ia bertemu dengan bandar narkoba besar di kota. Katanya
orang itu sangat baik tetapi bodoh. Kebodohan yang ia tertawakan karena begitu
mudahnya ia percaya orang. Orang tua itu kemudian menyebut nama bandar narkoba
yang disebutnya bodoh tersebut. Namanya adalah ferdinand. Aku mengenal baik
pemilik nama itu. Bahkan nama itu adalah satu satunya nama yang tertera di akte
lahirku setelah namaku sendiri, NATALIA FERDINAND. Itulah nama lengkapku, dan
orang tua depanku ini sedang membicarakan ayahku.
Setiap cerita yang keluar dari mulutnya
membuatku ingin muntah di wajahnya. Dengan sangat bodohnya orang tua ini
bercerita bagaimana ia memeras bandar narkoba itu, menjamin keselamatan
bisnisnya tetapi kemudian menusukknya dari belakang. Orang tua itu tertawa
begitu senang, kesempatan emas tidak boleh disiakan katanya. Setelah puas
memeras bandar tersebut ia kemudian ingin melaporkan bandar tersebut ke
atasannya agar ia bisa naik pangkat. Orang tua ini begitu licik, pisau
berukuran sedang ditanganku kugenggam erat, aku menunggu pengakuan soal
penembakan keluargaku. Dan benar saja orang tua ini mungkin terlalu percaya
padaku sehingga menceritakan semuanya.
Malam itu ia menerima telfon dari sang
bandar, ayahku. Ayahku mengancamnya akan menyeretnya juga kedalam penjara jika
ayahku ditangkap. Ia begitu panik, jika ketahuan ia akan segera di pecat dan
juga akan masuk penjara. Kesesokan paginya ia bersama hasyim, saat itu hasyim
sudah menjadi polisi, pergi kerumah sang bandar, rumahku. Bermaksud untuk
kembali memeras ayahku dan berjanji tidak akan melaporkannya. Tapi ayahku menolak,
bersikeras akan melaporkan orang tua ini ke atasannya. Yah, itu adalah pengaruh
ibuku. Ibuku bersikeras tidak ingin lagi diperas oleh polisi tersebut dan lebih
rela jika harus dipenjara. Ayahku pun ingin berhenti menajdi bandar narkoba
atas bujukan ibuku.
Mendengar hal itu membuat orang tua ini
begitu marah, ia kemudian memukul ayahku dan menodongkannya pistol. Hasyim juga
secara langsung menodongkan pistol ke arah ibu dan pembantuku yang kebetulan
ada dalam ruangan itu. Tubuhku lagi lagi bergetar, aku tahu kali ini amarah
yang menyelimutinya.
Sebelum orang tua ini hendak
menyelesaikan ceritanya, pisauku sudah kutancapkan teapt dilehernya. Merobek
nadi, orang tua itupun terjatuh. Ia sudah kesulitan bernapas dengan baik, darah
mengucur deras dibadannya. Matanya melotot kaget. Tubuhnya kejang, dari
mulutnya juga keluar darah. Saat tubuhnya semakin lemas karena kekurangan
darah, kudatangi wajahnya, kudekatkan bibirku ditelinganya. Aku bebisik, “Ini aku. Malaikat pencabut nyawamu.
Namaku Natalia Ferdinand. Salam kenal. Tunggu aku dineraka.”
Ekspresi dari wajahnya begitu terkejut,
ia seakan akan tahu alasan kenapa ia dibunuh olehku. Dengan mata yang melotot
dan mulut yang terbuka orang tua itu menghembuskan napas terakhirnya.
Aku berdiri. Bajuku penuh darah. Tak ada
senyum. Pandanganku kosong. Segera kupindahkan jenazah orang tua itu ke dapur,
kemudian kubersihkan bekas darahnya di dapur, dan bergegas mengganti baju
sebelum hasyim pulang. Yah, masih ada satu urusan lagi dan semuanya akan
selesai.
Tak lama hasyim pulang, iya sedikit
basah akibat hujan. Aku kemudian menarik tangannya masuk ke kamar. Hasyim
terkejut.
“Ada apa sayang? Kok narik gitu?”,
katanya penuh ragu sambil tersenyum.
Kupandang dia, kemudian kucium bibirnya.
Awalnya ia sempat kaget tapi kemudian ia membalas ciumanku. Kami saling
berciuman disertai rabaan, ketika kurasa nafsu hasyim sudah dipuncak,
kulepaskan ciuman dari bibirnya. Kemudian kuberbisik pelan
“Aku lagi pengen. Cuaca sedang dingin,
ayah sudah tidur dengan tenang. Kamu tenang saja. Aku ingin memberikan kamu
permainan paling hebat kali ini. Permaianan yang akan kamu kenang sampe mati.”
Hasyim tersenyum, kemudian kembali
mencium bibirku. Ia kemudian mengangkat badanku menuju dinding kamar. Bajuku
dibuka paksa, dibuangnya ke sembarang tempat. Aku pun membalasnya, baju dan
celananya dengan cepat kutanggalkan. Hanya menyisakan pakaian dalam, hasyim
semakin bernafsu, ditekannya aku semakin rapat ke tembok. Buku buku berjatuhan
akibat hentakan tubuhku pada rak rak buku. Nafasnya semakin memburu.
Aku tersenyum, di dalam hati aku sangat
mencintai hasyim tetapi dendamku harus dibalas. Salahakan ayahmu jika kau
bertemu dengannya di neraka, ini semua salahnya.
Permainan kami menjadi semakin liar
seirama dengan hujan yang semakin deras. Tubuhku dan tubuhnya sudah telanjang,
kulit tubuh kami sudah saling beradu, keringat kami telah menyatu, dan
teriakanku semakin tak terkendali.
Hampir setangah jam kami “bermain”
sebelum hasyim mencapai klimaksnya. Ia kemudian ke kamar mandi menyisakan aku
yang tengah terbaring lemah di atas kasur. Aku yang tengah bertelanjang
kemudian turun dari atas tempat tidur. Mengambil pistol hasyim yang terjatuh
dilantai saat aku melepaskan celananya. Aku cukup mahir menggunakan pistol,
hasyim pernah mengajakku ikut latihan menembak, katanya istri polisi harus tahu
pegang pistol buman cuman tahu pegang “senjata” suami. Tak kusangka ilmu
menembak itu akan kupakai sekarang.
Dengan badan telanjang, aku memegang
pistol mengarahkannya ke arah kamar mandi. Tak lama hasyim sudah selesai membersihkan
diri, dari dalam kamar mandi ia teriak.
“Nat, Natalia. Kamu mau mandi bareng
atau aku mandi sendiri?”
Tak mendapat jawaban, hasyim keluar dari
kamar mandi. Dan langsung terkejut melihat aku yang tengah telanjang
mengarahkan psitol ke arahnya. Hasyim juga sedang bertelanjang. Wajahnya begitu
kaget, seolah meminta penjelasan.
“Aku mencintaimu hasyim, teramat sangat.
Sampe kutahu kau juga terlibat dengan kematian bandar narkoba bernama
Ferdinand. Oh ya, nama lengkapku Natalia Ferdinand. Dan benar dia ayahku.”
Sebelum sempat hasyim bereaksi dengan
ucapanku, timah panah sudah meluncur mulus menembus dadanya. Membuat tubuh
telanjangnya roboh seketika. Tak ada lagi suara. Peluru itu tepat menembus
jantungnya. Menghentikan pompa darah keseluruh tubuh, membuat sang pemilik
tubuh akan menghembuskan nafas terakhirnya.
Aku memandang hasyim sunyi. Perasaanku
terbawa pergi peluru yang menembus jantung hasyim, menyatu dengan tubuh dan
darahnya. Cintaku telah kekal dalam raganya.
Aku memandang sekeliling, kamar berantakan,
tak ada cahaya. Hujan sudah perlahan redah. Tak ada harapan yang kusisakan,
semangat hidup tak ada lagi. Kuarahkan moncong pistol dipelipis kananku.
Aku kuciptakan bunyi terakhir yang
kudengar. Yang akan tergiang keras dalam ruangan. Ayah, aku membencimu. Tapi
dendammu sudah tuntas. Ibu aku meencitaimu. Tunggu aku, semoga kita tak
berjumpa di neraka.
Pelatuk pistol kutekan, suara menggema
di penjuru ruangan. Membuat tubuhku jatuh berasandarkan darah. Aku senang
dengan cara matiku.
END*
Shaleh Afif Angga
Mahasiswa Psikologi UNM angkatan 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar