Kamis, 24 September 2015

NATALIA (part 1)



Namaku Natalia. Umurku 23 tahun. Aku lebih dikenal dengan panggilan Kiya. Yah, tak seorang pun kuizinkan memanggilku dengan nama asliku. Bagiku nama Natalia adalah salah satu sisa kenanganku di masa lalu yang masih ingin kuingat. Keluargaku telah tiada. Lenyap dimakan takdir, bersamanya kukubur juga sosok Natalia, gadis cantik berpredikat juara kelas kebanggaan keluarga. Ayahku seorang pengusaha, itu katanya padaku waktu kecil saat kuminta mengisi biodata orang tua. Ibuku hanyalah ibu rumah tangga biasa. Aku tak punya saudara, aku anak tunggal yang dibesarkan untuk membuat bangga keluarga.

Saat ini aku berada dalam sebuah kamar. Dengan badan yang tengah telanjang, hanya diselimuti kain seprei putih. Bantal dan gulingnya sudah terbuang entah kemana, bersama baju dan celanaku yang ikut dibuangnya. Oh ya, aku melihat celana dalamku di sana. Terhimpit buku buku tebal yang juga latah berserakan. Kamar ini betul betul berantakan.

Aku tak tahu sekarang jam berapa, jendela belum kubuka sejak tadi. Aku terlalu lelah, energi seakan disedot habis oleh pria itu. Yah, kekacauan di kamar ini adalah ulah kami berdua. Namanya Letnan Hasyim. Seorang polisi yang kutemui di diskotik hampir setahun yang lalu. Hasyim lebih tua dariku, sekitar 10 tahun. Tapi dari wajah dan lekuk tubuhnya tidak menandakan dia lebih tua dariku. Dia sudah punya istri yang telah meninggal 2 tahun yang  lalu karena kecelakaan. Dia tak punya anak, hanya seorang pembantu tua yang menemaninya di rumah. Aku pernah kerumah Hasyim, 3 hari setelah aku pertama kali bertemu dengannya aku diajak melihat rumahnya. Disitu juga aku bercinta pertama kali dengan Hasyim, di dalam garasi mobil, saat hasyim ingin mengantarku pulang.

Setelah itu aku menjadi cukup rajin ke rumahnya, entah untuk hanya sekedar bercinta atau membuatkannya makan malam. Hasyim juga beberapa kali ke kontrakanku. Tapi bedanya kami hanya bercinta di sana. Kata Hasyim ia senang jika kami bercinta di kontrakanku, dia bebas menyuruhku mengenakan bikini berkeliling dalam rumah, hal yang tak mungkin kulakukan dirumahnya. Hasyim sepertinya punya obsesi tersendiri dengan wanita berbikini.

Hampir setahun aku menjalin hubungan dengan Hasyim membuat kami mantap ingin menikah. Dia melamarku di pantai, saat makan malam, Hasyim mengatur semuanya hingga tampak romantis. Aku tak menyangka polisi juga punya sisi yang romantis. Selama ini yang terlintas di pikiranku, polisi adalah seorang yang kaku dan mudah marah. Tapi Hasyim sangat berbeda, dia begitu mudah membuatku tertawa, entah dengan lelucon atau dengan gombalan ketinggalan zamannya. Hasyim perlahan membuatku lupa soal masa laluku.

Kami semakin yakin akan menikah ketika hasyim mengajakku bertemu dengan ayahnya dikampung. Ibunya sudah meninggal waktu dia masih kecil. Aku tentu saja senang, siapa yang tak senang akan betul betul memulai kehidupan yang baru, bersama lelaki pilihanku, sang Letnan Hasyim. Aku dan Hasyim akan menginap tiga malam di rumah ayahnya, katanya ia juga sudah lama tak pulang. Hasyim akan mengambil cuti untuk perjalanan kami.

Di jalan kami banyak bertukar cerita. Kami sepakat menggunakan mobil pribadi daripada menggunakan bus, lebih hemat kataku. Sebagai calon istri aku sudah harus mengatur keuangan calon suamiku. Aku pun mulai bercerita tentang nama asliku adalah Natalia, bukan Kiya. Hasyim senang mendengar pengakuanku.

“Kalau sudah menikah nama kamu jadi Ny. Natalia Hasyim”, ia terkekeh menyebutkan namaku yang sudah ditambah dengan namanya. Aku pun begitu, aku sepertinya mulai mencintai Hasyim. Awalnya aku tak punya niat terlalu jauh dengan Hasyim, tetapi waktu membuat semuanya berubah. Aku jatuh cinta padanya.

Di tengah perjalanan aku mulai bercerita tentang sisi kelam masa laluku. Tentang tragedi yang membuat aku terpaksa mengganti nama, menjadi miskin, dan bekerja sebagai pelayan di diskotik.

Semua berawal dari pertemuan ayahku dengan seorang pengusaha dari kampung. Mereka berbisnis soal jual beli tanah dengan kebun kelapa sawit di atasnya. Aku tak begitu paham apa bisnis ayahku, terkadang iya berbisnis tanah, ekspor barang keluar negeri, atau menjual boneka. Aku sering mendapat boneka waktu kecil, ukurannya besar. Tapi aku tak boleh sembarangan memilih. Boneka yang sudah masuk dalam pabrik tidak boleh lagi kupilih. Entah mereka melakukan apa dengan boneka itu di dalam pabrik.

Semakin dewasa aku menjadi semakin curiga dengan bisnis ayahku. Ia sering menghilang entah kemana selama beberapa waktu, kemudian pulang dengan wajah kusut penuh ketakutan. Ayahku tak pernah menjawab ketika kujawab darimana. Raut wajahnya menampakkan ketakutan dan rasa penyesalan.
Di malam terakhir aku berbicara dengan ayahku, aku mendengarnya menelepon. Ayahku sepertinya sedang sangat marah

“JANGAN GILA KAMU!!!! Aku sudah keluar uang banyak agar teman teman sok bersihmu itu nggak nangkap aku. Ini kenapa mereka pada ngincer aku?!! KAMU TAHU AKU SEKARANG BURON!!!”, Ayah menelepon dengan suara yang sangat keras. Di dalam kamar aku bisa mendengar ibu menangis, aku ingin memeluknya. Tapi terlalu takut keluar karena ayah sedang marah.

“Pokoknya besok pagi kamu harus ada disini. Beresin semuanya, jika sampai aku tertangkap aku akan seret kamu. Biar kamu dan anak kesanyanganmu itu masuk penjara, NGERTI?!!!”, ayahku kemudian menutup teleponnya, dari celah pintu yang terbuka sedikit aku melihat raut wajah yang begitu menakutkan. Ia kemudian membanting ponselnya ke lantai, membuat benda kecil itu hancur berantakan.

“POLISI ANJINGGGGG!!!!!”, teriaknya sebelum ia memasuki kamar. Aku tak tahu polisi siapa yang dia maksud, yang kutahu setelah ayahku masuk kamar tangis ibuku semakin besar. Aku tak mendengar suara ayah, curigaku ia sedang memeluk ibu dengan erat.

Esok paginya aku bangun agak siang, kebetulan hari itu hari libur. Tidurku terganggu oleh suara ribut di halaman rumah. Aku tak tahu itu siapa, yang kudengar hanya teriakan. Sangat menakutkan. Aku hendak keluar dari kamar, tapi ibu langsung masuk ke kamarku. Terburu buru dengan wajah gelisah, aku tak tahu apa yang terjadi.

“Kamu jangan keluar, demi apapun, aku mohon jangan keluar”. Ibu kemudian mengarahkanku ke dalam lemari. Aku yang masih belum terlalu sadar hanya menuruti apa kata ibu.

“Bersembunyilah di sini sampe ibu membukakanmu lemari ini. Kamu pegang foto ini, jangan berikan oleh siapapun, termasuk ke polisi. Simpan ini baik-baik, ibu sayang kamu”. Kecupan ibu dikening menjadi sentuhannya yang terakhir ditubuhku. 

Aku hanya duduk diam di balik kegelapan lemari pakaianku. Dengan sedikit cahaya yang masuk di celah jendela aku mengarahkan foto pemberian ibu, di sana aku melihat sosok ayahku denagan seorang lelaki yang lebih tua dari ayahku. Mereka tampak tersenyum akrab. Belum sempat kumemancing ingatanku untuk mengingat orang di foto ini, terdengar suara tembakan.

“DORRRR!!!! DORRRR!!! DORRR!!! DORR!! DORR!!”

Seketika tubuhku kaku, aku tak bisa bernapas. Bunyi tembakan itu membuat aku kehilangan kesadaran. Entah karena takut atau kaget. Yang kuingat, hanya gelap yang terlihat.

Aku tersadar beberapa jam kemudian di rumah sakit. Ketika aku sadar seorang suster berlari keluar, tak beberapa lama beberapa polisi datang. Sangat banyak. Aku ingat kata kata ibu jangan menyerahkan apapun pada polisi. Aku meraba celana belakangku tempatku menyimpan foto tersebut.

Setelah aku sadar seorang polisi datang kepadaku, dia mulai bercerita tentang kejadian apa yang aku alami. Kata polisi itu aku adalah satu-satunya korban yang selamat. Ayah, ibu, dan pembantu rumah tanggaku telah tewas tertembak orang yang tak dikenal. Ibu dan pembantuku tewas dengan sekali tembakan di dada. Sementara ayahku tewas dengan tiga tembakan, di kepala, jantung dan juga perut. Aku shock mendengarnya, tubuhku bergetar hebat, berharap yang diakatakan polisi itu adalah cerita misteri di televisi. Tapi sayangnya itu benar. Aku tak tahan lagi, pandanganku tiba-tiba gelap.

Keesokan harinya setelah sadar aku mendapati berita yang tak kalah mengejutkan lagi. Polisi memberitahu siapa ayahku sebenarnya. Ayahku adalah pengedar narkoba jenis sabu terbesar di kotaku. Ia sudah lama menjadi buron, dan kemungkinan yang telah membunuh keluargaku adalah salah satu lawan bisnis narkoba ayahku. Setidaknya itu perkiraan mereka.

Tubuhku lagi-lagi bergetar, tangisku tak dapat kubendung. Keluargaku telah meninggal secara mengenaskan, ayahku adalah seorang penjahat kelas kakap dan sudah menjadi buronan. Aku membenci ayahku, aku membenci darah yang mengalir ditubuhku adalah darahnya, dan aku benci keluargaku.

Setelah itu aku memutuskan ikut perlindungan saksi, aku menghapus semua data keluargaku dan hidup sebagai orang bebas denga nama Kiya. Aku tak menerima jaminan kehidupan dari polisi, aku ingin hidup sendiri. Melupakan segala hal soal keluargaku.

Hasyim hanya terdiam ketika aku selesai bercerita. Dia menatapku dalam dan entah kenapa air mataku tumpah seketika. Hasyim menepi, mengambil waktu untuk memelukku. Membuatku tenang, membuatku betul-betul aman. Hasyim berjanji akan menjagaku, melakukan apa pun yang bisa ia lakukan untuk membalas dendam kematian keluargaku.

Aku menolaknya, kataku aku sudah ingin melupakannya. Hasyim tersenyum. Satu kecupan hangat di kening dan satu ciuman manis di bibir menjadi penutup kisahku hari itu. Kami melanjutkan perjalanan dan sampai di rumahnya menjelang sore. Perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan.

Aku hendak turun saat mobil berhenti. Aku sudah terlalu lelah dengan perjalanan ini. Tapi lelahku seakan-akan hilang seketika, tubuhku kaku dibuatnya. 

Ada seorang lelaki tua disana, duduk di atas kursi seakan menunggu kami, wajah lelaki tua itu seakan mengingatkanku pada sosok yang bersama ayah di foto itu. Sosok yang selama ini kupikir adalah yang paling bertanggung jawab dengan kematian keluargaku. Dan Hasyim, memanggil orang tua itu dengan sebutan PAPA. (bersambung...)


*Shaleh Afif Angga
5 ilusi: September 2015 Namaku Natalia. Umurku 23 tahun. Aku lebih dikenal dengan panggilan Kiya. Yah, tak seorang pun kuizinkan memanggilku dengan nama asliku...

Setelah Satu Malam yang Kita Rakusi



Tetaplah seperti ini,
Menjadi paling berharga di waktu yang tak pernah aku duga.
Yang tetiba ada bersamaku di ujung dermaga,
Menyemburatkan rindu pada senja yang jingga.

Tetaplah seperti ini,
Menjagaku di kedalaman cinta yang paling diam,
Mengakar di palung jiwa yang paling terjal,
Menjadi daun di pipimu yang sangat kukenal.

Tetaplah seperti itu,
Bertahan dalam kejauhan, yang sering tak bias kurengkuh.
Sebab bersamamu, bias membuatku sehilangan kekuatan.

Aku benci hal itu.
Aku juga tak mau, kau yang harus menanggung semuanya,
Semua rasa yang mungkin saja akan kusia-siakan

Jadi, tetaplah seperti itu.


Teduh Baga
11: 58   15 April ‘15
5 ilusi: September 2015 Tetaplah seperti ini, Menjadi paling berharga di waktu yang tak pernah aku duga. Yang tetiba ada bersamaku di ujung dermaga, Meny...
< >