Namaku Natalia. Umurku 23 tahun. Aku
lebih dikenal dengan panggilan Kiya. Yah, tak seorang pun kuizinkan memanggilku
dengan nama asliku. Bagiku nama Natalia adalah salah satu sisa kenanganku di
masa lalu yang masih ingin kuingat. Keluargaku telah tiada. Lenyap dimakan
takdir, bersamanya kukubur juga sosok Natalia, gadis cantik berpredikat juara
kelas kebanggaan keluarga. Ayahku seorang pengusaha, itu katanya padaku waktu
kecil saat kuminta mengisi biodata orang tua. Ibuku hanyalah ibu rumah tangga
biasa. Aku tak punya saudara, aku anak tunggal yang dibesarkan untuk membuat
bangga keluarga.
Saat ini aku berada dalam sebuah kamar.
Dengan badan yang tengah telanjang, hanya diselimuti kain seprei putih. Bantal
dan gulingnya sudah terbuang entah kemana, bersama baju dan celanaku yang ikut
dibuangnya. Oh ya, aku melihat celana dalamku di sana. Terhimpit buku buku tebal
yang juga latah berserakan. Kamar ini betul betul berantakan.
Aku tak tahu sekarang jam berapa,
jendela belum kubuka sejak tadi. Aku terlalu lelah, energi seakan disedot habis
oleh pria itu. Yah, kekacauan di kamar ini adalah ulah kami berdua. Namanya Letnan Hasyim. Seorang polisi yang kutemui di diskotik hampir setahun yang
lalu. Hasyim lebih tua dariku, sekitar 10 tahun. Tapi dari wajah dan lekuk tubuhnya
tidak menandakan dia lebih tua dariku. Dia sudah punya istri yang telah
meninggal 2 tahun yang lalu karena
kecelakaan. Dia tak punya anak, hanya seorang pembantu tua yang menemaninya
di rumah. Aku pernah kerumah Hasyim, 3 hari setelah aku pertama kali bertemu
dengannya aku diajak melihat rumahnya. Disitu juga aku bercinta pertama kali
dengan Hasyim, di dalam garasi mobil, saat hasyim ingin mengantarku pulang.
Setelah itu aku menjadi cukup rajin
ke rumahnya, entah untuk hanya sekedar bercinta atau membuatkannya makan malam.
Hasyim juga beberapa kali ke kontrakanku. Tapi bedanya kami hanya bercinta
di sana. Kata Hasyim ia senang jika kami bercinta di kontrakanku, dia bebas
menyuruhku mengenakan bikini berkeliling dalam rumah, hal yang tak mungkin
kulakukan dirumahnya. Hasyim sepertinya punya obsesi tersendiri dengan wanita
berbikini.
Hampir setahun aku menjalin hubungan
dengan Hasyim membuat kami mantap ingin menikah. Dia melamarku di pantai, saat
makan malam, Hasyim mengatur semuanya hingga tampak romantis. Aku tak menyangka
polisi juga punya sisi yang romantis. Selama ini yang terlintas di pikiranku, polisi
adalah seorang yang kaku dan mudah marah. Tapi Hasyim sangat berbeda, dia
begitu mudah membuatku tertawa, entah dengan lelucon atau dengan gombalan
ketinggalan zamannya. Hasyim perlahan membuatku lupa soal masa laluku.
Kami semakin yakin akan menikah ketika
hasyim mengajakku bertemu dengan ayahnya dikampung. Ibunya sudah meninggal
waktu dia masih kecil. Aku tentu saja senang, siapa yang tak senang akan betul
betul memulai kehidupan yang baru, bersama lelaki pilihanku, sang Letnan Hasyim. Aku dan Hasyim akan menginap tiga malam di rumah ayahnya, katanya ia juga
sudah lama tak pulang. Hasyim akan mengambil cuti untuk perjalanan kami.
Di jalan kami banyak bertukar cerita.
Kami sepakat menggunakan mobil pribadi daripada menggunakan bus, lebih hemat
kataku. Sebagai calon istri aku sudah harus mengatur keuangan calon suamiku.
Aku pun mulai bercerita tentang nama asliku adalah Natalia, bukan Kiya. Hasyim
senang mendengar pengakuanku.
“Kalau sudah menikah nama kamu jadi Ny.
Natalia Hasyim”, ia terkekeh menyebutkan namaku yang sudah ditambah dengan
namanya. Aku pun begitu, aku sepertinya mulai mencintai Hasyim. Awalnya aku tak
punya niat terlalu jauh dengan Hasyim, tetapi waktu membuat semuanya berubah.
Aku jatuh cinta padanya.
Di tengah perjalanan aku mulai bercerita
tentang sisi kelam masa laluku. Tentang tragedi yang membuat aku terpaksa
mengganti nama, menjadi miskin, dan bekerja sebagai pelayan di diskotik.
Semua berawal dari pertemuan ayahku
dengan seorang pengusaha dari kampung. Mereka berbisnis soal jual beli tanah
dengan kebun kelapa sawit di atasnya. Aku tak begitu paham apa bisnis ayahku,
terkadang iya berbisnis tanah, ekspor barang keluar negeri, atau menjual
boneka. Aku sering mendapat boneka waktu kecil, ukurannya besar. Tapi aku tak
boleh sembarangan memilih. Boneka yang sudah masuk dalam pabrik tidak boleh
lagi kupilih. Entah mereka melakukan apa dengan boneka itu di dalam pabrik.
Semakin dewasa aku menjadi semakin
curiga dengan bisnis ayahku. Ia sering menghilang entah kemana selama beberapa
waktu, kemudian pulang dengan wajah kusut penuh ketakutan. Ayahku tak pernah
menjawab ketika kujawab darimana. Raut wajahnya menampakkan ketakutan dan rasa
penyesalan.
Di malam terakhir aku berbicara dengan
ayahku, aku mendengarnya menelepon. Ayahku sepertinya sedang sangat marah.
“JANGAN GILA KAMU!!!! Aku sudah keluar
uang banyak agar teman teman sok bersihmu itu nggak nangkap aku. Ini kenapa
mereka pada ngincer aku?!! KAMU TAHU AKU SEKARANG BURON!!!”, Ayah menelepon
dengan suara yang sangat keras. Di dalam kamar aku bisa mendengar ibu menangis,
aku ingin memeluknya. Tapi terlalu takut keluar karena ayah sedang marah.
“Pokoknya besok pagi kamu harus ada
disini. Beresin semuanya, jika sampai aku tertangkap aku akan seret kamu. Biar
kamu dan anak kesanyanganmu itu masuk penjara, NGERTI?!!!”, ayahku kemudian
menutup teleponnya, dari celah pintu yang terbuka sedikit aku melihat raut wajah
yang begitu menakutkan. Ia kemudian membanting ponselnya ke lantai, membuat benda
kecil itu hancur berantakan.
“POLISI ANJINGGGGG!!!!!”, teriaknya
sebelum ia memasuki kamar. Aku tak tahu polisi siapa yang dia maksud, yang
kutahu setelah ayahku masuk kamar tangis ibuku semakin besar. Aku tak mendengar
suara ayah, curigaku ia sedang memeluk ibu dengan erat.
Esok paginya aku bangun agak siang,
kebetulan hari itu hari libur. Tidurku terganggu oleh suara ribut di halaman
rumah. Aku tak tahu itu siapa, yang kudengar hanya teriakan. Sangat menakutkan.
Aku hendak keluar dari kamar, tapi ibu langsung masuk ke kamarku. Terburu
buru dengan wajah gelisah, aku tak tahu apa yang terjadi.
“Kamu jangan keluar, demi apapun, aku
mohon jangan keluar”. Ibu kemudian mengarahkanku ke dalam lemari. Aku yang
masih belum terlalu sadar hanya menuruti apa kata ibu.
“Bersembunyilah di sini sampe ibu
membukakanmu lemari ini. Kamu pegang foto ini, jangan berikan oleh siapapun,
termasuk ke polisi. Simpan ini baik-baik, ibu sayang kamu”. Kecupan ibu
dikening menjadi sentuhannya yang terakhir ditubuhku.
Aku hanya duduk diam
di balik kegelapan lemari pakaianku. Dengan sedikit cahaya yang masuk di celah
jendela aku mengarahkan foto pemberian ibu, di sana aku melihat sosok ayahku
denagan seorang lelaki yang lebih tua dari ayahku. Mereka tampak tersenyum
akrab. Belum sempat kumemancing ingatanku untuk mengingat orang di foto ini,
terdengar suara tembakan.
“DORRRR!!!! DORRRR!!! DORRR!!! DORR!!
DORR!!”
Seketika tubuhku kaku, aku tak bisa
bernapas. Bunyi tembakan itu membuat aku kehilangan kesadaran. Entah karena
takut atau kaget. Yang kuingat, hanya gelap yang terlihat.
Aku tersadar beberapa jam kemudian
di rumah sakit. Ketika aku sadar seorang suster berlari keluar, tak beberapa
lama beberapa polisi datang. Sangat banyak. Aku ingat kata kata ibu jangan menyerahkan
apapun pada polisi. Aku meraba celana belakangku tempatku menyimpan foto
tersebut.
Setelah aku sadar seorang polisi datang
kepadaku, dia mulai bercerita tentang kejadian apa yang aku alami. Kata polisi
itu aku adalah satu-satunya korban yang selamat. Ayah, ibu, dan pembantu
rumah tanggaku telah tewas tertembak orang yang tak dikenal. Ibu dan pembantuku
tewas dengan sekali tembakan di dada. Sementara ayahku tewas dengan tiga tembakan,
di kepala, jantung dan juga perut. Aku shock mendengarnya, tubuhku bergetar
hebat, berharap yang diakatakan polisi itu adalah cerita misteri di televisi.
Tapi sayangnya itu benar. Aku tak tahan lagi, pandanganku tiba-tiba gelap.
Keesokan harinya setelah sadar aku
mendapati berita yang tak kalah mengejutkan lagi. Polisi memberitahu siapa
ayahku sebenarnya. Ayahku adalah pengedar narkoba jenis sabu terbesar di
kotaku. Ia sudah lama menjadi buron, dan kemungkinan yang telah membunuh
keluargaku adalah salah satu lawan bisnis narkoba ayahku. Setidaknya itu
perkiraan mereka.
Tubuhku lagi-lagi bergetar, tangisku tak
dapat kubendung. Keluargaku telah meninggal secara mengenaskan, ayahku adalah
seorang penjahat kelas kakap dan sudah menjadi buronan. Aku membenci ayahku,
aku membenci darah yang mengalir ditubuhku adalah darahnya, dan aku benci
keluargaku.
Setelah itu aku memutuskan ikut
perlindungan saksi, aku menghapus semua data keluargaku dan hidup sebagai orang
bebas denga nama Kiya. Aku tak menerima jaminan kehidupan dari polisi, aku
ingin hidup sendiri. Melupakan segala hal soal keluargaku.
Hasyim hanya terdiam ketika aku selesai
bercerita. Dia menatapku dalam dan entah kenapa air mataku tumpah seketika.
Hasyim menepi, mengambil waktu untuk memelukku. Membuatku tenang, membuatku
betul-betul aman. Hasyim berjanji akan menjagaku, melakukan apa pun yang bisa
ia lakukan untuk membalas dendam kematian keluargaku.
Aku menolaknya, kataku aku sudah ingin
melupakannya. Hasyim tersenyum. Satu kecupan hangat di kening dan satu ciuman
manis di bibir menjadi penutup kisahku hari itu. Kami melanjutkan perjalanan dan
sampai di rumahnya menjelang sore. Perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan.
Aku hendak turun saat mobil berhenti.
Aku sudah terlalu lelah dengan perjalanan ini. Tapi lelahku seakan-akan hilang
seketika, tubuhku kaku dibuatnya.
Ada seorang lelaki tua disana, duduk di atas
kursi seakan menunggu kami, wajah lelaki tua itu seakan mengingatkanku pada
sosok yang bersama ayah di foto itu. Sosok yang selama ini kupikir adalah yang
paling bertanggung jawab dengan kematian keluargaku. Dan Hasyim, memanggil
orang tua itu dengan sebutan PAPA. (bersambung...)
*Shaleh Afif Angga
*Shaleh Afif Angga