Minggu, 28 September 2014

Sebagai Mayat

Muh.Shany K

Sebagai mayat, tiada hak campur tangan kita dalam urusan yang masih manusia ;
Sebab sebagai mayat, kita seharusnya tiada.
Sebagai mayat, kita tak punya wewenang dalam pembicaraan para peziarah ;
Soal demokrasi yang turut jadi mayat bagi rakyat,
atau soal Abdi Negara (seharusnya Hamba) yang berlagak kuasa.

Sebagai mayat, adalah hakikat ketika kita dilupakan.
Sudah selayaknya kita diabaikan.
Sebagai mayat, kita biasa terpasung diam sendiri di makam.

Sebagai mayat, kami marah ;
Menyaksikan manusia yang memasung suaranya,
Padahal masih punya hak.
Sebagai mayat kami murka ;
Di lupakan tak pernah menyenangkan, tapi kenapa ?
Beberapa dari kalian sengaja lupa saat yang lain menolak lupa.

Sebagai mayat, kami ingin bertukar tempat ;
Dengan mereka yang membuang haknya,
Dengan manusia yang enggan jadi dirinya karena takut pada kematian.
Biarlah, sebab sebagai mayat kami paham betul rasanya kematian.


Makassar, September. Di kampus yang pelan jadi mayat.
5 ilusi: September 2014 Muh.Shany K Sebagai mayat, tiada hak campur tangan kita dalam urusan yang masih manusia ; Sebab sebagai mayat, kita seharusnya tiada....

Selasa, 16 September 2014

Elegi Sebuah Nama



1/
Aku masih meratap depan namamu, terukir di sebuah batu dengan catatan waktu. Hanya tangis yang kau sisa sebagai hadiah di hari ulang tahunku, ulang tahun pernikahan kita juga. Sekarang aku bisa apa ? hanya menyesal untuk semuanya, untuk semua janji yang tak bisa kujaga, dan untuk seorang anak yang kelak harus merasa cukup dengan seorang ayah. Ketika malam tiba, aku hanya bisa menyimpulkan kenangan.
2/
Waktu itu aku belum tahu namamu, hanya nama setelahmu di absen kelas kita. Aku sempat jatuh cinta pada dia juga dan kau setelahnya. Waktu itu aku merasa cukup sebagai teman, tapi belakangan kita jadi lebih dekat sejak duduk sebangku. Bersamamu, aku sering merasakan waktu sebagai tungku perapian yang enggan padam.
3/
Berselang tujuh tahun setelah duduk sebangku, aku masih duduk bersisian denganmu. Bukan dengan seragam putih abu-abu seperti dulu, tapi dengan pakaian adat di depan penghulu. Kita menikah, setelah sebangku kita akhirnya serumah.
4/
Di tahun pertama pernikahan kita, semua masih berjalan wajar. Kau beri kabar gembira beberapa bulan berselang , setelah ulang tahun pernikahan yang pertama. Tepat beberapa hari sebelum ulang tahun pernikahan yang kedua.
5/
Di tahun kedua, hari-hari kita diisi dengan pertengkaran. Aku yang lelah dengan rutinitas, kau dengan suami yang tak punya pekerjaan. Kita sama-sama frustasi menjelang kelahiran anak pertama.
6/
Aku tak menyelesaikan bait ke enam, sengaja kulakukan agar namamu tak dikenang sebagai tragedi dan kisah kita tak berakhir sedih. Aku ingin mengenangmu sebagai cinta, bukan sebagai luka. Meski pernah aku lupa bahwa kita telah bersama, hingga sempat kuberi cinta kita ke lain wanita. Tapi kau wajib tahu, selayaknya pria aku tergoda untuk tak setia. Demi sebuah nama, maafkan aku. Demi nama seorang anak yang kau tinggalkan, nama anak kita.

*Penulis, Muh. Shany K adalah mantan calon mahasiswa sastra entah dimana. Sekarang aktif sebagai mahasiswa Psikologi UNM angkatan 2012. Sedang sibuk kuliah sambil bekerja (kerja tugas kuliah dan semacamnya)
5 ilusi: September 2014 1/ Aku masih meratap depan namamu, terukir di sebuah batu dengan catatan waktu. Hanya tangis yang kau sisa sebagai hadiah di hari u...

Minggu, 14 September 2014

Pemilik Ruangmu Kelak




Letih tapakku menyusur menjadi jejak menujut tempat terjauh di riwayatmu.
Mencari ruang kosong di hatimu yang mungkin bisa kupenuhi,
Seperti halnya kau penuhi kepalaku dengan berita tentangmu.
Kemudian kelak kita tafsirkan semua dalam cerita ini sebagai dendam.

Perlu kau tahu, aku pernah mencoba menyerah.
Tapi gagal sesering aku mencoba, seperti puisi dalam buku catatanku yang tak mampu kuselesaikan.
Aku masih percaya Tuhan tak sepihak menetapkan cinta di hati yang gulita
Meski dalam penantian kadang Tuhan menguji di luar batas
Tapi dimana lagi rindu ini bisa pulang kalau bukan kepadamu,
Siapa lagi yang bisa jadi tuan bagi cinta yang lama ditinggalkan pemiliknya,
Siapa lagi jika bukan dirimu.

Beri aku nama, selain kau. Hatiku tak percaya.
Dan pemuda yang sekarang bersamamu itu sama saja,
Dengan lelaki yang sudah-sudah menjadikanmu sebagai persinggahan.
Tapi kau perlu membuktikannya agar aku tak jadi pendusta.

Maka kuputuskan mufakat dengan diri sendiri untuk menunggu lebih lama.
Dan membiarkannya tetap di sana, untuk kugantikan kelak sebagai pemilik ruang yang baru.

Kampus waktu minggu, September 2014.

*Penulis, Muh. Shany K adalah mantan calon mahasiswa sastra entah dimana. Sejak tahun 2012 harus menyelesaikan nasib yang dipilihkan untuknya sebagai Sarjana Psikologi tahun 2017 nanti.
5 ilusi: September 2014 Letih tapakku menyusur menjadi jejak menujut tempat terjauh di riwayatmu. Mencari ruang kosong di hatimu yang mungkin bisa kupenuhi...

Sabtu, 13 September 2014

Sekolah dan Waktu Luang

Non scholae, sed vitae discimus "Kita belajar bukan untuk nilai-nilai sekolah namun untuk kehidupan".

Seberapa sering kita mendengar atau membaca kata belajar.? Seberapa sering pula kata belajar terasosiakan dalam pikiran kita dengan sekolah?

Ketika seseorang bertanya, “Untuk apa bersekolah?” sebagian besar mungkin akan menjawab, “Untuk belajar.” Ada benarnya, di sekolah kita memang akan mendapat pelajaran. Lalu jika pertanyaannya seperti ini, “Dimana kita bisa belajar?.” Ketika sebagian besar jawaban yang kita temukan adalah, “Di sekolah.” Maka wajar pula jika kita seringkali keliru dalam memaknai kehidupan.

Belajar merupakan sebuah proses untuk mendapatkan pengetahuan, agar kita lebih bisa memahami hal-hal di 
sekitar kita, dapat berubah dari yang tidak baik menjadi baik, dan dari sesuatu yang baik menjadi lebih baik. Belajar tidak harus selalu dikaitkan dengan sekolah, dimana pemahaman kita akan sekolah pun di sini sangat dibatasi maknanya.

Sepertinya kita telah mengikis makna kata sekolah dari jejak sejarah kata itu berasal. Bagaimana tidak, jika kita menyebutkan kata sekolah, maka yang muncul di benak kita mungkin adalah sebuah gedung, terdiri dari beberapa ruangan, memiliki fasilitas seperti bangku, papan tulis dan buku, memiliki tenaga pengajar yang akan memberikan penjelasan atau pengajaran kepada sejumlah siswa. Sekolah juga selalu memiliki seperangkat aturan yang mewajibkan seluruh peserta didik untuk mematuhinya. Mulai dari warna sepatu, seragam, jadwal masuk dan pulang dan lain sebagainya. Bagi pelanggar peraturan, tentu akan mendapatkan sanksi. Ada berbagai macam sanksi yang biasanya berbeda-beda, tapi tujuannya adalah agar sanksi tersebut memberikan efek jera agar si pelanggar tidak mengulangi pelanggarannya lagi. Mungkin begitulah gambaran singkat tentang sekolah bagi sebagian orang.

Padahal, jika kita kembali mencari dan menelusuri jejak historis dari lahirnya kata sekolah, sepertinya ada sebuah kekeliruan yang terjadi dengan penggambaran kita tentang sekolah selama ini. Kata sekolah sendiri berasal dari bahasa latin yaitu skhole, scola, scholae, yang secara harfiah berarti “waktu luang” atau “waktu senggang”. Konon pada zaman Yunani kuno, orang-orang senang mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi orang tertentu atau tempat tertentu untuk berdiskusi atau mennyakan hal-hal yang mereka anggap perlu untuk mereka ketahui. Di sana mereka akan belajar banyak hal.

Kebiasaan ini terus berlanjut. Barulah kemudian ditemukan catatan oleh Plato dan Aristophanes yang menuliskan tentang ruang kelas dan sekolah. Pada saat itu, sekolah masih sangat sederhana, pelajarannya dititkberatkan pada latihan kemiliteran, atletik, musik dan puisi. Sekolah menjadi tempat yang menyenangkan di sela-sela kegiatan harian bekerja. Orang-orang datang untuk menemukan apa yang mereka pikir perlu untuk mereka ketahui, karena mereka sadar akan indahnya pengetahuan.

Sudah seharusnya kita bercermin dari semangat masyarakat Yunani dalam mencintai pengetahuan. Melihat rendahnya sikap kompetitif peserta didik di sekolah-sekolah kita, bahkan tidak jarang kita menemukan anak berseragam sekolah membolos karena menganggap sekolah adalah tempat yang membosankan. Sekolah adalah tempat dimana kita dapat menentukan siswa yang lebih pintar karena kecerdasan mereka di hitung oleh angka-angka yang tinggi, sedangkan siswa dengan angka rendah tidak jarang dianggap sebagai siswa yang kurang kompeten atau bodoh. Sistem nilai pun menjadi tolok ukur apakah kita pantas untuk ke jenjang selanjutnya atau harus tinggal di jenjang tersebut.

Padahal kita tahu, bahwa sekolah hanyalah salah satu sarana yang tersedia untuk dijadikan tempat belajar. Kita sejatinya dapat belajar dimana saja dan kapan saja. Sejarah telah mengajarkan kita orang-orang hebat seperti Einstein, Thomas Alva Edison, Bill Gates, Mark Zuckerberg adalah orang-orang yang pernah putus sekolah namun menemukan kesuksesannya. Ini karena mereka tidak pernah berhenti belajar sekalipun mereka berhenti sekolah.
Jika saja kita bisa merenungi dan memahami kembali makna sekolah dari asal katanya. Melihat sekolah sebagai salah satu tempat yang menyenangkan untuk mengejar pengetahuan. Menyusun sejumlah nilai kehidupan, bukan sekedar melihat angka-angka sebagai pertimbangan pintar atau tidaknya seseorang. Memahami kata-kata dalam buku lebih dari sekedar mengenal abjad per abjad agar bisa membacanya. Sekolah sepatutya menjadi tempat yang menyenangkan untuk memerdekakan pikiran, memerdekakan kehidupan.

*

Tulisan ini telah diterbitkan di Kolom Literasi, Koran Tempo Makassar, Jumat, 12 September 2014
5 ilusi: September 2014 Non scholae, sed vitae discimus "Kita belajar bukan untuk nilai-nilai sekolah namun untuk kehidupan". Seberapa sering kita me...

Ceritakan Bu

Ceritakan padaku ibu
Dari lisan perempuan bugismu
Tentang epos Mahabrata dan Ramayana
Dari perang saudara pandawa kurawa
Hingga gugurnya Bima, Arjuna pada Baratayuda
Juga romansa tragedi Rama Sinta
Atau yang mengantar lelap tidurku
Kisah kepulangan pangeran  Luwu
Yang bertualang jauh hingga Cina
Kisah Sawerigading dan romantika
Dalam sureq klasik leluhur bugis
I Lagaligo yang terkurung murka, merindu
 Di Kotak kaca para Kolonial
Ingin pulang ke tanah lahir
Kisahkan pada generasiku
Yang lupa budaya tanah lahir
Dan memilih kagumi budaya para lelaki pedansa
Kisahkan aku dan kawanku
Ingatkan lagi tentang pesan-pesan luhur
Yang diantarkan kisah-kisah dalam kitab-kitab Ardhi
Yang meski tersingkir, kini
Namun jujur tak bersanding ocehan para penganut samawi
Yang gemar meminjam bait suci Tuhan
Demi wujudkan kepentingan
Tuntaskan dahagaku ibu
Dahaga akan kerinduan pada pesan-pesan kebajikan
Yang kau antar dalam sureq dan kisah-kisah pewayangan
Yang berani melabrak nilai-nilai di tangan kekuasaan
Yang memecah perbedaan, menggilas kepalsuan

*I Lagaligo harus pulang.




5 ilusi: September 2014 Ceritakan padaku ibu Dari lisan perempuan bugismu Tentang epos Mahabrata dan Ramayana Dari perang saudara pandawa kurawa Hingga g...

Desember dan Ibu




Desember ini aku rindu

Bukan rindu biasa

Meski dengan rindu lain sepertinya sama saja.

Rindu ini untuk perempuan

Perempuan bugis yang dinikahi ayah

Desember ini aku rindu

Rindu pada tatapan letih perempuan

Perempuan bugis tua yang belum renta

Perempuan yang untukku seluruh doanya

Desember ini, rinduku milik perempuan

Perempuan bugis yang kunamai ibu

Yang setiap pagi semasa sekolahku

Kukecup tangannya dan berlalu

Bukan karena hormatku, itu kebiasaanku

Pada desember yang mengakhiri tahunku

Titip rindu ini untuk ibuku

Bisikkan dia tentang kisahku

Yang akhirnya belajar merindu bersama waktu

Pada ibu, pada perempuan bugis ayahku

Makassar, menjelang hari ibu. 
Dimuat di Kolom Budaya, Fajar, 22 Desesmber 2013
5 ilusi: September 2014 Desember ini aku rindu Bukan rindu biasa Meski dengan rindu lain sepertinya sama saja. Rindu ini untuk perempuan ...

Merupai Masa

Ingatkan aku tentang indahnya mentari pagi
Atau dinginnya mandi di subuh hari.
Ingatkan lagi tentang penjara suci :
Kota santri tempat kita dulu berpulang lagi.
Ingatkan aku waktu kita mendalami kitab-kitab samawi
Dari Al-Quran, Hadist, hingga Barazanji,
Dari Bukhari, hingga cerita para sufi.
Atau cerita waktu kita dipukuli,
Karena tak mengaji, atau menghapal materi
Dengan rotan, kabel, bambu, hingga batang besi.
Dan tiba masa lelah akan dunia
Atau cerita fantasi soal surga dan neraka.
Aku ingin cepat berpulang saja :
Ke pangkuan ibu di desa
Serta menghabiskan waktu di beranda bersama ayah
Bercerita soal segala gelisah
Mulai soal wanita, hingga persoalan kuliah.
Diam-diam aku mengenang cinta pertama
Pada seorang wanita  yang enggan tertawa
Diam-diam aku mengenang masa
Ketika berenang bertelanjang di laut bersama mereka
Diam-diam aku mengenang Tuhan
Yang lama kudiamkan lalu kulupakan
Sebab dendam yang belum kutunaikan.
 
*Ditulis berdasarkan kenangan masa nyantri.
5 ilusi: September 2014 Ingatkan aku tentang indahnya mentari pagi Atau dinginnya mandi di subuh hari. Ingatkan lagi tentang penjara suci : Kota santri tem...

Tentang Kau dan Aku “Sebut Saja Kita”

Kau adalah pujangga yang menulis syair penyayat jiwa.
Perupa, dari patung yang mendekap lutut menahan luka
Pemusik, yang mencipta nada-nada penuh duka
Kau dan aku adalah bagian dari sebuah cerita cinta
Yang dihindari oleh setiap manusia
Enggan dibaca oleh penikmat cerita bahagia
Kita seperti tumpukan buku yang berdebu
Yang lama bisu di ruang tunggu
Dan hanya dibaca oleh para penunggu
Kau dan aku telah saling tahu
Kita adalah sepasang rindu tanpa titik temu
Yang menderita karena pertemuan kita dipagari waktu
Andai semua benar-benar tentang kau dan aku
Andai cerita ini benar-benar tentangmu dan aku
Sayangnya kita hanya ada dalam kepalaku
Sayangnya ini hanya tentang aku yang jadi bonekamu
Atau kau yang jadi majikanku
Sayangnya cerita cinta tentang kita tak pernah benar-benar ada
Sebab aku adalah satu dari berjuta manusia
Yang enggan mengartikan cinta
Dengan kata ganti “bahagia”
Maka tentang kau ataupun aku
Atau kita, atau mereka
Cerita ini tak pernah ada.

*puisi ini aneh, tidak usah dibaca.
5 ilusi: September 2014 Kau adalah pujangga yang menulis syair penyayat jiwa. Perupa, dari patung yang mendekap lutut menahan luka Pemusik, yang mencipta n...

Batas Persinggungan


1/
Aku tak ingin jatuh cinta seperti para pendosa : yang menjadikan agama sebagai kuda, serta gemar meminjam nama Tuhan sebutuhnya saja. Cintaku haruslah sesuci penghuni Surga, yang sebelumnya habis dibenamkan untuk pembersihan di dasar Neraka.
2/
Aku tak bisa jadi pendusta. Seperti rasa aman di Orde baru, yang mengubur kebenaran di segala penjuru. Atau seperti Negara yang dibangun dengan hutang yang diwariskan sebagai kekayaan. Cintaku tidak sepalsu itu.
3/
Bukan simbiosis antara ternak dan gembala. Atau seperti barang dagangan di pasar swalayan. Cintaku tak punya kembalian. Tidak pula seperti politikus yang pandai bermain kotor. Atau media yang gemar jadi provokator. Aku tidak sepicik itu mencintaimu.
4/
Tapi jangan kemana-mana bila tak kuminta. Sebab aku menghalalkan semua cara agar kau tak pergi. Bisa lebih fasis dari Musolini, atau sehalus hegemoni Gramsci. Asal kau tak pergi, aku pasrah menerima serapah, seperti komunis yang dimusuhi berkat rekayasa awak media.
Terinspirasi dari sebuah sajak tanpa judul milik akun tumblr dengan nama “sembariberlari”
5 ilusi: September 2014 1/ Aku tak ingin jatuh cinta seperti para pendosa : yang menjadikan agama sebagai kuda, serta gemar meminjam nama Tuhan sebutuhnya...

Merdeka Kita Masih Fana

Kita pernah terjajah dalam durasi abad secara nyata
Lalu merdeka, tapi berlanjut sebagai perbudakan yang kasat

Dulunya kita tunduk tak melawan karena ketakutan
Kita ketakutan sebab mereka pegang senjata
Mereka adalah maling berwajah manis pada awalnya,
Dan baru kita sadar siapa mereka
Setelah timah panas yang menembus jutaan kepala.

Kini kita masih tunduk :
Lewat hiburan, atau selubung pendidikan
Kepala kita diracuni dengan kelamin dan dada wanita
Anak-anak di sekolah dididik jadi pekerja dan penjilat.
Bila dulunya kepala kita cukup terlindung dari Jepang atau Belanda.
Hari ini kita perlu melindungi kepala dari aparat Negara.
Aku tak bercanda, seperti awak media yang menjual sampah.
Kau perlu kembali belajar sejarah dengan benar bila tak percaya.

Entah benar tolol atau pura-pura
Tapi sebagian kita buta, sebagian lagi sengaja
Sebagian lagi mendengar tapi kabur sambil tutup telinga
Maka jangan tersinggung jika aku sabda :
"Merdeka kita masih fana"

Negeri ini masih punya harapan.
Tak perlu malaikat, cukup mereka yang mau berbuat.
Tidak perlu minta Tuhan menurunkan Nabi
Kita hanya perlu orang yang berani. 

*Penulis adalah mantan calon mahasiswa sastra yang terpaksa menyelesaikan nasib sebagai calon sarjana psikologi.
5 ilusi: September 2014 Kita pernah terjajah dalam durasi abad secara nyata Lalu merdeka, tapi berlanjut sebagai perbudakan yang kasat Dulunya kita tunduk tak ...

Jumat, 12 September 2014

Tak Harus Abadi

Aku mudah jatuh cinta pada hal-hal sederhana yang kau perbuat
meski tak tersusun jelas,
yang pasti ini tentangmu,
tentangmu yang selalu samar bagiku,
pada jejak yang kerap menghimpun saksi.
Dendam dan Cinta. Buruk dan Baik.
Sebagian yang lainnya terletak di hadapan kita.
Lalu kita pungut sambil memejamkan mata.

Kita kerap saling tatap dalam percakapan yang tak sudah.
Namun juga siap berbagi keheningan disaat kata-kata tidak dibutuhkan.
Setelah itu, aku akan hidup dalam kehangatan hatimu
dan selalu menyebutnya rumah.
Engkau sempurna
bukan karena segala soal yang disebut kesempurnaan
Engkau sempurna dengan segala cela
yang bisa disematkan kepadamu.

demi hasratku,
aku tak rela kau bersandar selain aku
Dan demi dupa yang rontok mewangi
Aku menumpahkan keserakahanku tentangmu dalam doa.

Aku mudah jatuh cinta pada hal-hal sederhana yang kau perbuat
Di jendela dingin berdiri reranting jarak
Kata kegembiraan tidak bertahan lama
Di musim semi malah jatuh berguguran
Sama sulitnya dengan menginginkan dicintai adalah menolak dicintai
Itu pilihan kita.
Sekarang kita adalah dua orang yang terus mencoba untuk saling menjauh tanpa mengetahui bagaimana rasanya sendiri

Aku sadar.
Seseorang ternyata bukan benar-benar milik kita.
Aku bisa memiliki hati, tubuh, dan cintanya
Tapi takkan pernah memiliki jalan hidupnya.
Bukankah Menunggu itu menyakitkan,
Dan melupakan juga menyakitkan.

Kita selalu berjanji
akan menghabiskan hidup bersama
Tapi ketahuilah:
Ada hal yang tak harus abadi untuk menjadi sempurna.


*Muh. Reza Firmansyah, penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi UNM Angkatan 2010


5 ilusi: September 2014 Aku mudah jatuh cinta pada hal-hal sederhana yang kau perbuat meski tak tersusun jelas, yang pasti ini tentangmu, tentangmu yang sela...

Kau Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi

Kau masih sering teringat pada Gadis Bulan. Setiap malam, ketika kau duduk dan memandang bulan separuh, ingatanmu pasti surut ke suatu waktu, ketika kau sedang mangkal di depan anjungan Pantai Losari. Atau ketika kau duduk merumput di Benteng Fort Rotterdam malam itu. Kau duduk di depan panggung bersama puluhan orang di dalam keremangan cahaya.

Sebenarnya, kau tidak bermaksud datang ke sana. Ketika angin lembab menerpa wajah dan lenganmu yang berminyak, di depan anjungan Pantai Losari, kau menatap langit dan berpikir. Sebentar lagi hujan pasti turun. Kau lalu meninggalkan tempat mangkalmu di bawah billbord besar yang tidak lagi memuat iklan rokok, melainkan sebait puisi milik Chairil Anwar: Aku ingin hidup seribu tahun lagi.

Kau mengayuh becak menuju rumahmu di Jalan Nusantara. Namun, begitu tiba di depan Benteng Fort Rotterdam, kau melihat kendaraan bermotor menumpuk tidak seperti biasanya. Kau memutar haluan, memarkir becak, kemudian bertanya ke tukang parkir dengan rompi oranye yang menguarkan aroma keringat.

Tapi tukang parkir itu tidak mampu memberimu informasi yang jelas.

Barulah ketika memasuki Benteng Fort Rotterdam dan membaca brosur di tanganmu, kau tahu, bahwa yang tengah berlangsung adalah MIWF: Makassar International Writers Festival. Kau berusaha mencerna kalimat itu berulang-ulang. Pikirmu, kata “writers” di brosur itu pasti ada kaitannya dengan kata“write”yang artinya “tulis”. Hanya itulah satu-satunya kosa kata bahasa Inggris yang kau tahu. Kau sering mendengarnya diucapkan turis yang menanyakan alamat padamu. Dan turis yang kesulitan menghapal alamat tersebut akan mengucapkan kata “write” sembari menyodorkan pulpen dan tangannya untuk ditulisi.

Seorang gadis tengah bernyanyi di atas panggung ketika kau melewati pintu gerbang benteng yang terbuka. Gadis itu menyandang gitar. Petikannya tidak sempurna di beberapa nada awal. Namun, kau dan penonton lainnya tetap mampu menikmati lagu yang ia nyanyikan. Seolah-olah penonton membeku di dalam keremangan cahaya. Satu-satunya yang bercahaya adalah panggung, atau barangkali gadis yang sedang berdiri di atasnya. Di langit, tepat di atas kepala gadis itu, bulan separuh menggantung.

Barangkali, gadis itu adalah jelmaan separuh bulan yang menyusut ke bumi. Tidak salah lagi. Ia juga menyanyikan lagu berjudul “Ada Bulan di Telingamu”. Ia adalah Gadis Bulan! Itu sebabnya ia mampu menarik perhatian penonton, pikirmu.

Kau tidak kuasa mengatupkan mata dan mulutmu. Kau memang tidak hapal lirik lagu milik Gadis Bulan. Tapi setelah malam itu berlalu, kau sering menyenandungkan lagu tersebut. Di kamar mandi, di jalan, di warung, bahkan di tempat mangkal. Teman-temanmu sesama tukang becak, sudah mengenal lagu itu.

Kau merasakan dadamu berdesir ketika Gadis Bulan berbicara dengan suara gemetar, dan memperlihatkan barisan giginya yang putih rapi. Mata Gadis Bulan berkaca-kaca. Indah sekali. Ini pertama kali baginya tampil di hadapan banyak orang. Kau ingin sekali berdiri lalu berlari memeluk Gadis Bulan, kemudian berbisik ke telinganya bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi penonton tetap bertepuk tangan menyemangati Gadis Bulan, sehingga ia kembali memetik gitar dan menyanyikan lagu kedua.

Sebenarnya, malam itu bukan pertama kali bagimu melihat Gadis Bulan. Gadis yang bernyayi di atas panggung itu telah menumpangi becakmu. Astaga! Kau menepuk jidatmu keras-keras. Mengutuk ingatanmu yang tumpul.

Siang itu, Gadis Bulan menumpangi mobil dari Hotel Best Western menuju Benteng Fort Rotterdam. Ia punya jadwal membawakan workshop kepenulisan. Tapi kendaraan di depan anjungan Pantai Losari menumpuk, tidak bisa bergerak, dan kendaraan di belakang telanjur merapat. Gadis Bulan menggigit bibirnya dan menepuk-nepuk pahanya. Ia memandang jauh ke pantai dan mengembuskan napas panjang, melihat air bergoyang-goyang dan menyala ditimpa sinar matahari. 

Tiba-tiba Gadis Bulan berhamburan keluar dari mobil, celingak-celinguk sebentar, kemudian berlari seraya meletakkan telapak tangan di atas alisnya seperti hormat yang berlebihan. Menghiraukan teriakan supir, Gadis Bulan menyelipkan tubuhnya yang kecil di antara tumpukan kendaraan. Kau mengayuh becakmu menyongsong kedatangan Gadis Bulan. Setelah berujar, “Rotterdam, ya, Pak”, Gadis Bulan meloncat ke atas becakmu. Sepanjang perjalanan, kau diam memandang Gadis Bulan lewat cermin di sudut kanan atas becak. Tentu saja Gadis Bulan tidak tahu. Ia terus memandangi jam Casio hitam yang melingkari tangannya.

Kau sempat melempar senyum kemenangan ke pangkalan becak. Di antara ketujuh temanmu yang mangkal di bawah billbord besar, kaulah yang dipilih Gadis Bulan. Sebelum kau berbelok dan menghilang, dari sudut matamu, kau bisa melihat sebait puisi di billboard itu. Seperti Chairil Anwar, kaujuga ingin hidup seribu tahun lagi. Tentu saja setelah bertemu Gadis Bulan siang itu.

Kau sungguh tidak menyangka dapat bertemu kembali dengan Gadis Bulan. Malam itu, Gadis Bulan seperti bernyanyi untukmu. Ia mengenakan anorak oranye, celana jins, dan sepatu kets. Tapi wajahnya adalah wajah yang sama dengan gadis yang pernah menumpangi becakmu. Wajah gadis itu adalah bulan, sepasang mata dan telinganya adalah bulan, hidungnya yang mungil adalah bulan, dan bibirnya yang tipis adalah bulan.

Kau meraba saku jaketmu yang lusuh ketika Gadis Bulan menuruni panggung diiringi tepuk tangan penonton. Lalu kau berlari menyusulnya ke toilet. Di sana, orang-orang telah berkumpul menunggu Gadis Bulan keluar dan meminta tanda tangan atau sekadar berfoto. Tentu saja Gadis Bulan tidak dapat melihatmu. Kau berdiri jauh darinya dan tidak tersentuh cahaya. Padahal kau hanya ingin mengembalikan uang miliknya.

Gadis Bulan nampak terburu-buru menuruni becak siang itu. Baru saja kau membuka dompet mencari uang kembalian, ia sudah menghilang, tenggelam ke dalam keramaian Benteng Fort Rotterdam. Sama seperti malam itu, ketika kau menunduk dan memainkan kerikil di sekitar kakimu, ia tiba-tiba menghilang dari tengah kerumunan.

Kau berlari menuju panggung MIWF, tapi Gadis Bulan tidak ada di sana. Ia juga tidak kau temukan di antara penulis-penulis yang memenuhi kursi baris depan. Ia tidak ada di kerumunan penonton. Tidak juga kau temukan di stan penjualan buku. Kemana perginya Gadis Bulan?

Sebagai Gadis Bulan, ia tentu saja bercahaya dan mudah ditemukan. Namun setelah mengelilingi Benteng Fort Rotterdam, kau tidak bisa menemukannya. Kau duduk, mengatur napas, kemudian sesaat memandang bulan separuh yang menggantung di langit.

Kau menelan liurmu dalam-dalam dan berpikir. Barangkali, Gadis Bulan telah kembali ke langit. Sudah waktunya ia melengkapi separuh bulan yang ditinggalkannya itu. Kau berpikir begitu karena teringat seorang ibu dan anak yang pernah menumpangi becakmu. Anak sekolah dasar itu bercerita kepada ibunya tentang Cinderella yang terpaksa meninggalkan pangeran ketika jam berdentang dua belas kali.

Barangkali, Gadis Bulan juga punya aturan sendiri. Tapi tidak seperti Cinderella yang meninggalkan sepatu kaca untuk pangeran, Gadis Bulan tidak meninggalkan apa pun untukmu—selain ingatan tentang wajah dan aroma parfumnya ketika ia duduk di atas becak dan kaus putihnya basah karena keringat.

Kau telah menanyakan perihal Gadis Bulan pada petugas reservasi hotel tempatnya menginap. Kau bahkan bertanya pada panitia MIWF. Tapi semua menatapmu penuh curiga lalu mengaku tidak tahu. Seolah-olah kau dapat mengancam keselamatan Gadis Bulan.

Kini, dari malam ke malam, kau masih menunggu Gadis Bulan. Kau tidak tahu kapan waktu itu akan tiba, sehingga kau hanya berdoa: Kau sungguh-sungguh mampu hidup seribu tahun lagi untuk hari yang entah kapan itu.

*Ashari Ramadana T, penulis adalah Mahasiswa Fakultas Psikologi  Universitas Negeri Makassar Angkatan 2012
5 ilusi: September 2014 Kau masih sering teringat pada Gadis Bulan. Setiap malam, ketika kau duduk dan memandang bulan separuh, ingatanmu pasti surut ke suatu wakt...
< >