Aku
mudah jatuh cinta pada hal-hal sederhana yang kau perbuat
meski
tak tersusun jelas,
yang
pasti ini tentangmu,
tentangmu
yang selalu samar bagiku,
pada
jejak yang kerap menghimpun saksi.
Dendam
dan Cinta. Buruk dan Baik.
Sebagian
yang lainnya terletak di hadapan kita.
Lalu
kita pungut sambil memejamkan mata.
Kita
kerap saling tatap dalam percakapan yang tak sudah.
Namun juga
siap berbagi keheningan disaat kata-kata tidak dibutuhkan.
Setelah itu, aku
akan hidup dalam kehangatan hatimu
dan selalu
menyebutnya rumah.
Engkau
sempurna
bukan
karena segala soal yang disebut kesempurnaan
Engkau
sempurna dengan segala cela
yang
bisa disematkan kepadamu.
demi
hasratku,
aku
tak rela kau bersandar selain aku
Dan
demi dupa yang rontok mewangi
Aku
menumpahkan keserakahanku tentangmu dalam doa.
Aku
mudah jatuh cinta pada hal-hal sederhana yang kau perbuat
Di
jendela dingin berdiri reranting jarak
Kata
kegembiraan tidak bertahan lama
Di
musim semi malah jatuh berguguran
Sama
sulitnya dengan menginginkan dicintai adalah menolak dicintai
Itu
pilihan kita.
Sekarang
kita adalah dua orang yang terus mencoba untuk saling menjauh tanpa mengetahui
bagaimana rasanya sendiri
Aku
sadar.
Seseorang
ternyata bukan benar-benar milik kita.
Aku
bisa memiliki hati, tubuh, dan cintanya
Tapi
takkan pernah memiliki jalan hidupnya.
Bukankah
Menunggu itu menyakitkan,
Dan
melupakan juga menyakitkan.
Kita
selalu berjanji
akan
menghabiskan hidup bersama
Tapi
ketahuilah:
Ada
hal yang tak harus abadi untuk menjadi sempurna.
*Muh.
Reza Firmansyah, penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi UNM Angkatan 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar