Jumat, 12 September 2014

Tak Harus Abadi

Aku mudah jatuh cinta pada hal-hal sederhana yang kau perbuat
meski tak tersusun jelas,
yang pasti ini tentangmu,
tentangmu yang selalu samar bagiku,
pada jejak yang kerap menghimpun saksi.
Dendam dan Cinta. Buruk dan Baik.
Sebagian yang lainnya terletak di hadapan kita.
Lalu kita pungut sambil memejamkan mata.

Kita kerap saling tatap dalam percakapan yang tak sudah.
Namun juga siap berbagi keheningan disaat kata-kata tidak dibutuhkan.
Setelah itu, aku akan hidup dalam kehangatan hatimu
dan selalu menyebutnya rumah.
Engkau sempurna
bukan karena segala soal yang disebut kesempurnaan
Engkau sempurna dengan segala cela
yang bisa disematkan kepadamu.

demi hasratku,
aku tak rela kau bersandar selain aku
Dan demi dupa yang rontok mewangi
Aku menumpahkan keserakahanku tentangmu dalam doa.

Aku mudah jatuh cinta pada hal-hal sederhana yang kau perbuat
Di jendela dingin berdiri reranting jarak
Kata kegembiraan tidak bertahan lama
Di musim semi malah jatuh berguguran
Sama sulitnya dengan menginginkan dicintai adalah menolak dicintai
Itu pilihan kita.
Sekarang kita adalah dua orang yang terus mencoba untuk saling menjauh tanpa mengetahui bagaimana rasanya sendiri

Aku sadar.
Seseorang ternyata bukan benar-benar milik kita.
Aku bisa memiliki hati, tubuh, dan cintanya
Tapi takkan pernah memiliki jalan hidupnya.
Bukankah Menunggu itu menyakitkan,
Dan melupakan juga menyakitkan.

Kita selalu berjanji
akan menghabiskan hidup bersama
Tapi ketahuilah:
Ada hal yang tak harus abadi untuk menjadi sempurna.


*Muh. Reza Firmansyah, penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi UNM Angkatan 2010


5 ilusi: Tak Harus Abadi Aku mudah jatuh cinta pada hal-hal sederhana yang kau perbuat meski tak tersusun jelas, yang pasti ini tentangmu, tentangmu yang sela...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

< >