Kau
masih sering teringat pada Gadis Bulan. Setiap malam, ketika kau duduk dan memandang
bulan separuh, ingatanmu pasti surut ke suatu waktu, ketika kau sedang mangkal
di depan anjungan Pantai Losari. Atau ketika kau duduk merumput di Benteng Fort
Rotterdam malam itu. Kau duduk di depan panggung bersama puluhan orang di dalam
keremangan cahaya.
Sebenarnya,
kau tidak bermaksud datang ke sana. Ketika angin lembab menerpa wajah dan
lenganmu yang berminyak, di depan anjungan Pantai Losari, kau menatap langit
dan berpikir. Sebentar lagi hujan pasti turun. Kau lalu meninggalkan tempat
mangkalmu di bawah billbord besar
yang tidak lagi memuat iklan rokok, melainkan sebait puisi milik Chairil Anwar:
Aku ingin hidup seribu tahun lagi.
Kau
mengayuh becak menuju rumahmu di Jalan Nusantara. Namun, begitu tiba di depan Benteng
Fort Rotterdam, kau melihat kendaraan bermotor menumpuk tidak seperti biasanya.
Kau memutar haluan, memarkir becak, kemudian bertanya ke tukang parkir dengan
rompi oranye yang menguarkan aroma keringat.
Tapi
tukang parkir itu tidak mampu memberimu informasi yang jelas.
Barulah
ketika memasuki Benteng Fort Rotterdam dan membaca brosur di tanganmu, kau
tahu, bahwa yang tengah berlangsung adalah MIWF: Makassar International Writers Festival.
Kau berusaha mencerna kalimat itu berulang-ulang. Pikirmu, kata “writers” di brosur itu pasti ada
kaitannya dengan kata“write”yang
artinya “tulis”. Hanya itulah satu-satunya kosa kata bahasa Inggris yang kau tahu.
Kau sering mendengarnya diucapkan turis yang menanyakan alamat padamu. Dan
turis yang kesulitan menghapal alamat tersebut akan mengucapkan kata “write” sembari menyodorkan pulpen dan
tangannya untuk ditulisi.
Seorang
gadis tengah bernyanyi di atas panggung ketika kau melewati pintu gerbang benteng yang
terbuka. Gadis itu menyandang gitar. Petikannya tidak sempurna di beberapa nada
awal. Namun, kau dan penonton lainnya tetap mampu menikmati lagu yang ia
nyanyikan. Seolah-olah penonton membeku di dalam keremangan cahaya. Satu-satunya
yang bercahaya adalah panggung, atau barangkali gadis yang sedang berdiri di
atasnya. Di langit, tepat di atas kepala gadis itu, bulan separuh menggantung.
Barangkali,
gadis itu adalah jelmaan separuh bulan yang menyusut ke bumi. Tidak salah lagi.
Ia juga menyanyikan lagu berjudul “Ada Bulan di Telingamu”. Ia adalah Gadis Bulan!
Itu sebabnya ia mampu menarik perhatian penonton, pikirmu.
Kau
tidak kuasa mengatupkan mata dan mulutmu. Kau memang tidak hapal lirik lagu milik
Gadis Bulan. Tapi setelah malam itu berlalu, kau sering menyenandungkan lagu
tersebut. Di kamar mandi, di jalan, di warung, bahkan di tempat mangkal.
Teman-temanmu sesama tukang becak, sudah mengenal lagu itu.
Kau
merasakan dadamu berdesir ketika Gadis Bulan berbicara dengan suara gemetar, dan
memperlihatkan barisan giginya yang putih rapi. Mata Gadis Bulan berkaca-kaca. Indah
sekali. Ini pertama kali baginya tampil di hadapan banyak orang. Kau ingin
sekali berdiri lalu berlari memeluk Gadis Bulan, kemudian berbisik ke telinganya
bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi penonton tetap bertepuk tangan menyemangati
Gadis Bulan, sehingga ia kembali memetik gitar dan menyanyikan lagu kedua.
Sebenarnya,
malam itu bukan pertama kali bagimu melihat Gadis Bulan. Gadis yang bernyayi di
atas panggung itu telah menumpangi becakmu. Astaga! Kau menepuk jidatmu
keras-keras. Mengutuk ingatanmu yang tumpul.
Siang itu, Gadis Bulan menumpangi mobil dari Hotel Best Western menuju Benteng Fort Rotterdam. Ia punya jadwal membawakan workshop kepenulisan. Tapi kendaraan di depan anjungan Pantai Losari menumpuk, tidak bisa bergerak, dan kendaraan di belakang telanjur merapat. Gadis Bulan menggigit bibirnya dan menepuk-nepuk pahanya. Ia memandang jauh ke pantai dan mengembuskan napas panjang, melihat air bergoyang-goyang dan menyala ditimpa sinar matahari.
Siang itu, Gadis Bulan menumpangi mobil dari Hotel Best Western menuju Benteng Fort Rotterdam. Ia punya jadwal membawakan workshop kepenulisan. Tapi kendaraan di depan anjungan Pantai Losari menumpuk, tidak bisa bergerak, dan kendaraan di belakang telanjur merapat. Gadis Bulan menggigit bibirnya dan menepuk-nepuk pahanya. Ia memandang jauh ke pantai dan mengembuskan napas panjang, melihat air bergoyang-goyang dan menyala ditimpa sinar matahari.
Tiba-tiba Gadis Bulan berhamburan keluar dari mobil,
celingak-celinguk sebentar, kemudian berlari seraya meletakkan telapak tangan
di atas alisnya seperti hormat yang berlebihan. Menghiraukan teriakan supir, Gadis
Bulan menyelipkan tubuhnya yang kecil di antara tumpukan kendaraan. Kau
mengayuh becakmu menyongsong kedatangan Gadis Bulan. Setelah berujar,
“Rotterdam, ya, Pak”, Gadis Bulan meloncat ke atas becakmu. Sepanjang perjalanan,
kau diam memandang Gadis Bulan lewat cermin di sudut kanan atas becak. Tentu
saja Gadis Bulan tidak tahu. Ia terus memandangi jam Casio hitam yang
melingkari tangannya.
Kau
sempat melempar senyum kemenangan ke pangkalan becak. Di antara ketujuh temanmu
yang mangkal di bawah billbord besar,
kaulah yang dipilih Gadis Bulan. Sebelum kau berbelok dan menghilang, dari
sudut matamu, kau bisa melihat sebait puisi di billboard itu. Seperti
Chairil Anwar, kaujuga ingin hidup seribu tahun lagi. Tentu saja setelah
bertemu Gadis Bulan siang itu.
Kau
sungguh tidak menyangka dapat bertemu kembali dengan Gadis Bulan. Malam itu,
Gadis Bulan seperti bernyanyi untukmu. Ia mengenakan anorak oranye, celana jins,
dan sepatu kets. Tapi wajahnya adalah wajah yang sama dengan gadis yang pernah
menumpangi becakmu. Wajah gadis itu adalah bulan, sepasang mata dan telinganya
adalah bulan, hidungnya yang mungil adalah bulan, dan bibirnya yang tipis adalah
bulan.
Kau
meraba saku jaketmu yang lusuh ketika Gadis Bulan menuruni panggung diiringi
tepuk tangan penonton. Lalu kau berlari menyusulnya ke toilet. Di sana, orang-orang
telah berkumpul menunggu Gadis Bulan keluar dan meminta tanda tangan atau
sekadar berfoto. Tentu saja Gadis Bulan tidak dapat melihatmu. Kau berdiri jauh
darinya dan tidak tersentuh cahaya. Padahal kau hanya ingin mengembalikan uang miliknya.
Gadis
Bulan nampak terburu-buru menuruni becak siang itu. Baru saja kau membuka dompet
mencari uang kembalian, ia sudah menghilang, tenggelam ke dalam keramaian
Benteng Fort Rotterdam. Sama seperti malam itu, ketika kau menunduk dan
memainkan kerikil di sekitar kakimu, ia tiba-tiba menghilang dari tengah
kerumunan.
Kau
berlari menuju panggung MIWF, tapi Gadis Bulan tidak ada di sana. Ia juga tidak
kau temukan di antara penulis-penulis yang memenuhi kursi baris depan. Ia tidak
ada di kerumunan penonton. Tidak juga kau temukan di stan penjualan buku.
Kemana perginya Gadis Bulan?
Sebagai
Gadis Bulan, ia tentu saja bercahaya dan mudah ditemukan. Namun setelah
mengelilingi Benteng Fort Rotterdam, kau tidak bisa menemukannya. Kau duduk,
mengatur napas, kemudian sesaat memandang bulan separuh yang menggantung di
langit.
Kau
menelan liurmu dalam-dalam dan berpikir. Barangkali, Gadis Bulan telah kembali
ke langit. Sudah waktunya ia melengkapi separuh bulan yang ditinggalkannya itu.
Kau berpikir begitu karena teringat seorang ibu dan anak yang pernah menumpangi
becakmu. Anak sekolah dasar itu bercerita kepada ibunya tentang Cinderella yang
terpaksa meninggalkan pangeran ketika jam berdentang dua belas kali.
Barangkali,
Gadis Bulan juga punya aturan sendiri. Tapi tidak seperti Cinderella yang
meninggalkan sepatu kaca untuk pangeran, Gadis Bulan tidak meninggalkan apa pun
untukmu—selain ingatan tentang wajah dan aroma parfumnya ketika ia duduk di
atas becak dan kaus putihnya basah karena keringat.
Kau
telah menanyakan perihal Gadis Bulan pada petugas reservasi hotel tempatnya
menginap. Kau bahkan bertanya pada panitia MIWF. Tapi semua menatapmu penuh
curiga lalu mengaku tidak tahu. Seolah-olah kau dapat mengancam keselamatan
Gadis Bulan.
Kini, dari malam ke malam, kau masih menunggu Gadis Bulan. Kau tidak tahu kapan waktu itu akan tiba, sehingga kau hanya berdoa: Kau sungguh-sungguh mampu hidup seribu tahun lagi untuk hari yang entah kapan itu.
Kini, dari malam ke malam, kau masih menunggu Gadis Bulan. Kau tidak tahu kapan waktu itu akan tiba, sehingga kau hanya berdoa: Kau sungguh-sungguh mampu hidup seribu tahun lagi untuk hari yang entah kapan itu.
*Ashari Ramadana T, penulis adalah Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar Angkatan 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar