Sabtu, 13 September 2014

Sekolah dan Waktu Luang

Non scholae, sed vitae discimus "Kita belajar bukan untuk nilai-nilai sekolah namun untuk kehidupan".

Seberapa sering kita mendengar atau membaca kata belajar.? Seberapa sering pula kata belajar terasosiakan dalam pikiran kita dengan sekolah?

Ketika seseorang bertanya, “Untuk apa bersekolah?” sebagian besar mungkin akan menjawab, “Untuk belajar.” Ada benarnya, di sekolah kita memang akan mendapat pelajaran. Lalu jika pertanyaannya seperti ini, “Dimana kita bisa belajar?.” Ketika sebagian besar jawaban yang kita temukan adalah, “Di sekolah.” Maka wajar pula jika kita seringkali keliru dalam memaknai kehidupan.

Belajar merupakan sebuah proses untuk mendapatkan pengetahuan, agar kita lebih bisa memahami hal-hal di 
sekitar kita, dapat berubah dari yang tidak baik menjadi baik, dan dari sesuatu yang baik menjadi lebih baik. Belajar tidak harus selalu dikaitkan dengan sekolah, dimana pemahaman kita akan sekolah pun di sini sangat dibatasi maknanya.

Sepertinya kita telah mengikis makna kata sekolah dari jejak sejarah kata itu berasal. Bagaimana tidak, jika kita menyebutkan kata sekolah, maka yang muncul di benak kita mungkin adalah sebuah gedung, terdiri dari beberapa ruangan, memiliki fasilitas seperti bangku, papan tulis dan buku, memiliki tenaga pengajar yang akan memberikan penjelasan atau pengajaran kepada sejumlah siswa. Sekolah juga selalu memiliki seperangkat aturan yang mewajibkan seluruh peserta didik untuk mematuhinya. Mulai dari warna sepatu, seragam, jadwal masuk dan pulang dan lain sebagainya. Bagi pelanggar peraturan, tentu akan mendapatkan sanksi. Ada berbagai macam sanksi yang biasanya berbeda-beda, tapi tujuannya adalah agar sanksi tersebut memberikan efek jera agar si pelanggar tidak mengulangi pelanggarannya lagi. Mungkin begitulah gambaran singkat tentang sekolah bagi sebagian orang.

Padahal, jika kita kembali mencari dan menelusuri jejak historis dari lahirnya kata sekolah, sepertinya ada sebuah kekeliruan yang terjadi dengan penggambaran kita tentang sekolah selama ini. Kata sekolah sendiri berasal dari bahasa latin yaitu skhole, scola, scholae, yang secara harfiah berarti “waktu luang” atau “waktu senggang”. Konon pada zaman Yunani kuno, orang-orang senang mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi orang tertentu atau tempat tertentu untuk berdiskusi atau mennyakan hal-hal yang mereka anggap perlu untuk mereka ketahui. Di sana mereka akan belajar banyak hal.

Kebiasaan ini terus berlanjut. Barulah kemudian ditemukan catatan oleh Plato dan Aristophanes yang menuliskan tentang ruang kelas dan sekolah. Pada saat itu, sekolah masih sangat sederhana, pelajarannya dititkberatkan pada latihan kemiliteran, atletik, musik dan puisi. Sekolah menjadi tempat yang menyenangkan di sela-sela kegiatan harian bekerja. Orang-orang datang untuk menemukan apa yang mereka pikir perlu untuk mereka ketahui, karena mereka sadar akan indahnya pengetahuan.

Sudah seharusnya kita bercermin dari semangat masyarakat Yunani dalam mencintai pengetahuan. Melihat rendahnya sikap kompetitif peserta didik di sekolah-sekolah kita, bahkan tidak jarang kita menemukan anak berseragam sekolah membolos karena menganggap sekolah adalah tempat yang membosankan. Sekolah adalah tempat dimana kita dapat menentukan siswa yang lebih pintar karena kecerdasan mereka di hitung oleh angka-angka yang tinggi, sedangkan siswa dengan angka rendah tidak jarang dianggap sebagai siswa yang kurang kompeten atau bodoh. Sistem nilai pun menjadi tolok ukur apakah kita pantas untuk ke jenjang selanjutnya atau harus tinggal di jenjang tersebut.

Padahal kita tahu, bahwa sekolah hanyalah salah satu sarana yang tersedia untuk dijadikan tempat belajar. Kita sejatinya dapat belajar dimana saja dan kapan saja. Sejarah telah mengajarkan kita orang-orang hebat seperti Einstein, Thomas Alva Edison, Bill Gates, Mark Zuckerberg adalah orang-orang yang pernah putus sekolah namun menemukan kesuksesannya. Ini karena mereka tidak pernah berhenti belajar sekalipun mereka berhenti sekolah.
Jika saja kita bisa merenungi dan memahami kembali makna sekolah dari asal katanya. Melihat sekolah sebagai salah satu tempat yang menyenangkan untuk mengejar pengetahuan. Menyusun sejumlah nilai kehidupan, bukan sekedar melihat angka-angka sebagai pertimbangan pintar atau tidaknya seseorang. Memahami kata-kata dalam buku lebih dari sekedar mengenal abjad per abjad agar bisa membacanya. Sekolah sepatutya menjadi tempat yang menyenangkan untuk memerdekakan pikiran, memerdekakan kehidupan.

*

Tulisan ini telah diterbitkan di Kolom Literasi, Koran Tempo Makassar, Jumat, 12 September 2014
5 ilusi: Sekolah dan Waktu Luang Non scholae, sed vitae discimus "Kita belajar bukan untuk nilai-nilai sekolah namun untuk kehidupan". Seberapa sering kita me...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

< >