Sabtu, 25 Oktober 2014

Perbandingan Cinta


Aku ingin menjadi napas
yang setiap kali bolak-balik di setiap jantung yang bernyawa
agar bisa menemani setiap jiwa yang sepi
menepuk-nepuk dari dalam tiap-tiap hati yang retak

Tapi
aku teringat
bukankah semua itu telah menjadi pekerjaan Tuhan selama ini?
Dia yang lebih dekat dari urat nadi di leher
yang selalu mengulurkan dua gelas madu mengapit setetes pahitnya empedu
ulurannya selalu bersamaan tapi kita seringkali melihatnya bergiliran
bahkan paling sering dengan sengaja tak ingin kita saksikan

Maka,
adakah cinta yang lebih khianat
dari pengabaian seorang hamba kepada Tuhan-Nya?

 
Makassar, 8 Oktober 2014-02:09
5 ilusi: 2014 Aku ingin menjadi napas yang setiap kali bolak-balik di setiap jantung yang bernyawa agar bisa menemani setiap jiwa yang sepi menepu...

D.I.L.A (Eirene)


Dila.
Dalam hati ini ada rasa
Maka rindulah aku.
Dalam rasa ada cinta
Tapi bukan milikmu.
Dalam cinta rintih sepiku
Siapa juga yang mau tahu?
Dila.
Hari-hari menjadi perihal jumawa
Melupakan dunia hanya untuk berbincang denganmu
Dalam percakapan yang tak sudah
Dalam jarak pandang yang tak usang
Bersamamu,
Setiap detik
Bagai seribu menit.
Seribu menit
Bagai bertahun-tahun cinta.

Ah, ternyata aku tidur siang lagi.
5 ilusi: 2014 Dila. Dalam hati ini ada rasa Maka rindulah aku. Dalam rasa ada cinta Tapi bukan milikmu. Dalam cinta rintih sepiku Siapa juga ...

Rabu, 08 Oktober 2014

Sajak Terka Mengira

Selalu menyenangkan menyaksikan kota malam hari, begitu tenang; tanpa serapah dan caci maki, sayang malam hari di kota banyak yang mati.

Menyaksikan langit malam, menyaksikan kenangan. Mengira-ngira suasana pegunungan; sedang apa kabut bersama dedaunan?

Menyaksikan nisanmu, mengenang tawamu. Mengira-ngira sepi di makammu; adakah telinga malaikat penjaga makam mendengar sebaik telingaku dulu?

Merupai waktu, merupai senyummu. Menerka-nerka lelaki yang mengisi ruang rasamu; apakah aku, atau memang lelakimu?


*Muh. Shany Kasysyaf, penulis adalah mahasiswa yang mengira dirinya Ultraman Gaia; datang dari planet berjuta tahun cahaya untuk membersihkan dunia manusia dari setan-setan bernama keserakahan.
5 ilusi: 2014 Selalu menyenangkan menyaksikan kota malam hari, begitu tenang; tanpa serapah dan caci maki, sayang malam hari di kota banyak yang mati. ...

Sebagai Kerikil

Aku melihat kerikil di sungai yang dangkal, begitu tabah; tenggelam, terinjak para penyeberang. Tanpa keluh sepanjang waktu.

Andai aku kerikil di sungai yang dangkal itu, mungkin menunggu bukan masalah dan terluka jadi begitu sederhana.

Aku menyaksikan kerikil di sungai yang dangkal; begitu berguna dan tak pernah meminta balas jasa. Menjadi rumah, atau sekadar pelampiasan orang putus cinta buat dikembalikan ke dasar sungai yang dangkal.

Andai kerikil adalah pejabat negara, pasti tak begitu gunung anggaran negara buat mengenyangkan perut-perut tanpa ruangan.

Aku iri melihat kerikil bisa begitu ihklas. Ah, seandainya kerikil adalah wakil rakyat pasti demonstrasi tak perlu ada.


*Muh. Shany Kasysyaf, penulis adalah mahasiswa yang mengira dirinya Ultraman Gaia; datang dari planet berjuta tahun cahaya untuk membersihkan dunia manusia dari setan-setan bernama keserakahan.
5 ilusi: 2014 Aku melihat kerikil di sungai yang dangkal, begitu tabah; tenggelam, terinjak para penyeberang. Tanpa keluh sepanjang waktu. Andai aku ...

Mati Suri

Seperti biasa, sorak-sorai demontsrasi mahasiswa terus bersenandung menuntut hak-haknya sebagai mahasiswa. Bedanya, semakin hari sorak-sorai itu berangsur gemulai bak nyanyian nina bobo buat pimpinan. Bukannya menggertak agar Si Pimpinan, Prof. DR. Hutama Setiawan, M.Pd bangun dari buaiannya malah Pimpinan semakin tertidur pulas tanpa belas kasih.

Lagi-lagi, serentetan kalimat opini di Koran lokal kampus Universitas Permai Makassar menjadi sarapan pagiku. Aku cengengesan dibuatnya. “Untuk apa mereka berbuat semua itu jika prioritasku bukan mereka. Kasihan!”
Kuteguk secangkir kopi hangat buatan istriku, cukup menghangatkan lambungku, lantas apalagi kupedulikan jika sudah pewe (perasaan weenak) seperti ini? Aku sudah terlanjur nyaman.
***
Pagi-pagi tadi, lagi-lagi ada aksi demonstrasi mahasiswa di depan tempat kerjaku, menuntut hak katanya, demonstrasi itu akan berlangsung selama seminggu jika tak direspon mereka akan bertindak kasar, begitu kabar yang kudengar. “Dasar anak kecil!” batinku. Kuisap dalam-dalam sebatang cigarette Marlboro mengiringi imajinasiku terwujudnya impian-impian masa kecilku.
Berpakaian rapi, berdasi, lalu dibalut jas licin mengkilap dengan celana yang serasi, sepatu excellent kualitas impor, dan berkantor di gedung mewah pencakar langit yang buas hampir benar-benar terwujud sempurna. Sedikit lagi, tinggal beberapa hari aku menunggu. Oh, sudah tak sabar rasanya.
“Permisi, Pak!” tegur seorang pria berperawakan tinggi, berkemeja putih, dan bercelana hitam di balik pintu ruangan pribadiku. Lamunanku buyar seketika.
“Iya, silakan masuk!”
“Begini, Pak, mahasiswa di bawah sedang demo. Bagaimana ini, Pak?”
Aku mendesis. “Santai saja! mereka akan sadar sendiri nantinya. Katanya mahasiswa, kaum intelek, agent of change, lantas masih teriak-teriak seperti anak kecil begitu? Kapan perubahan itu akan ditunaikan? Lewat teriakan? Apakah hanya dengan teriakan maka dunia kan berubah? Tak semudah itu, Boy. Memangnya mereka penyihir.”
Pemuda yang kusapa akrab dengan Boy itu menelan ludah tak berkutik. Lalu, pelan-pelan ia mundur dan keluar dari ruangan tanpa sepatah kata.
“Haha… Dasar anak-anak jaman sekarang!”
Menuntut hak? Dua kata itu menari di pikiranku. Hak apa yang mereka tuntut sementara kewajiban belum ditunaikan.
“Toktoktok….” Pintu ruanganku kembali diketuk oleh orang yang sama sebelumnya.
“Iya, silakan masuk!”
“Pak, mahasiswa di bawah hendak ke ruangan ini. Bagaimana ini, Pak? Haruskah saya membiarkannya?”
Aku mendesis. “Santai saja! mereka akan sadar sendiri nantinya. Katanya mahasiswa, kaum intelek, agent of change, lantas tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tindakan mereka pasti cerdas. Mereka takkan melakukan apa-apa, paling meminta dengan muka pias dan selesai.”
Pemuda itu kembali mundur tanpa sepatah kata.
Kucoba mengintip dari balik jendela. Ratusan mahasiswa dengan pakaian serba hitam memenuhi halaman Gedung Rektorat. Hati kecilku berbisik.
“Oh, mahasiswaku… kasihan sekali kalian. Teriakan-teriakan itu takkan menciptakan perubahan.”
Sayup-sayup terdengar teriakan saling bersahut-sahutan dari mereka,”Hidup Mahasiswa… Hidup!!! Hidup Mahasiswa… Hidup!!! Hidup Mahasiswa… Hidup!!!”
Take action, katanya. Itukah aksi dari mahasiswa? Sedangkal itukah?” Aku bergumam.” Harusnya mereka belajar dengan benar, mengisi otak dan kemampuan bukan melatih mulut mengoceh. Menjuarai setiap olimpiade-olimpiade dan kompetisi-kompetisi nasional dan internasional, itu baru mahasiswa.”
“Pakaiannya saja tidak menunjukkan identitas sebagai mahasiswa, apa bedanya dengan penghuni pinggir jalanan? Mereka hanya tahu menuntut, kasian Indonesia, generasinya hanya pandai bicara.” Kunyalakan lagi sebatang cigarette Marlboro lalu kuisap dalam-dalam.
“Tok…tok…tok…”
“Silakan masuk!”
Tiba-tiba pintu ruanganku terbuka dengan kasar. Blukkk… gagangnya menumpu dinding dan meninggalkan bekas tekanan kuat. Aku kaget dibuatnya.
“Permisi…” ucap seorang pemuda berperawakan tinggi dengan pakaian yang awut-awutan. Dingin dan angkuh.
Aku terdiam. “Bisa saya masuk, Pak Rektor?” katanya sedikit lebih sopan.
“Mm… boleh. Tentu saja. Mari masuk!” kupersilakan pemuda itu masuk dan duduk di kursi tamu.
“Terima kasih. Tidak usah, Pak. Saya tidak mau basa-basi. Bagaimana kalau langsung saja ke inti pembicaraan?”
Hm… aku menahan tawa. Saya mencoba menyalaminya dahulu. Pemuda itu, yang tidak lain adalah mahasiswaku tentunya tidak menolak.
“Hutama…” ucapnya dingin
Kening saya mengerut. “Bisa lebih sopan, Anak Muda?”
Ia tersenyum.”Nama saya Hutama, Pak.”
Aku pun tersenyum. Ia malah menjabat kuat tanganku.
“Nama lengkapmu?”
“Hutama Setiawan.”
“Katanya tidak mau basa-basi? Lantas apa tujuan kemari?”
“Saya tidak basa-basi, Pak. Nama saya Hutama Setiawan. Yang punya impian berpakaian rapi, berdasi, lalu dibalut jas licin mengkilap dengan celana yang serasi, sepatu excellent kualitas impor, dan berkantor di gedung mewah pencakar langit yang buas. Impian itu hampir benar-benar terwujud sempurna. Sedikit lagi, tinggal beberapa hari aku menunggu.”
Kepalaku dingin. Tubuhku bergetar hebat. Kutekan kedua tanganku yang hampir melayang ke wajah pemuda itu. Dan aku tak sadar lagi.
***
Pandanganku kabur. Semua yang terlihat hanya berwarna serba putih. Entah sekarang aku dia alam mana. Tapi suasana ini tidak asing bagiku.
“Pak, kami meminta hak-hak kami!”
“Pak, kami minta hak-hak kami!”
“Pak, berikan hak-hak kami!”
Suara bersahut-sahutan jelas sekali di telingaku.
“Pak, saya Hutama Setiawan mewakili teman-teman mahasiswa menuntut hak-hak kami.” Suara bariton yang juga tak asing bagiku berbisik sangat dekat di telingaku. Tapi, tak ada satu pun orang yang kulihat.
“Pak Hutama, kami masuk ke Universitas ini tidak gratis, kami bayar, Pak. Sekarang kami minta hak-hak kami.”
Suara-suara itu semakin jelas. “Lakukan dulu tugasmu sebaik-baiknya, jadi mahasiswa yang benar, lalu ambil semua hakmu!” jawabku pelan.
“Tapi, Pak bagaimana kami melakukan itu? Minum itu butuh gelas, Pak. Bagaimana kami jadi mahasiswa yang baik kalo tidak difasilitasi dengan baik? Pak, dengarkan suara hati kami!”
Suara-suara itu semakin lama semakin jelas dan semakin keras hampir memecahkan gendang telingaku. Tapi, satu hal yang membuatku bingung bahwa suara-suara itu semua berasal dari satu sumber. Sepertinya aku sangat mengenalnya.
Sebuah sentuhan kurasakan di wajahku. Oh, itu tangan istriku tapi, mengapa wajahnya tidak tampak? Bu…. Bu… bu…
Seluruh tubuhku bergetar. Lagi-lagi suara yang tidak asing itu menggelegar di telingaku.
“Pak, berikan hak kami. Berikan hak kami! Hak kami, Pak. Hak kamiiiiiii…….. hak kamiiiiii, Pak! Hak kami, berikan! Berikaaaaaaan hak kami, Paaaaaaaaaaaaak!”
Suara itu hilang seketika. Aku tidak tahu suara-suara apa itu? Kepalaku hampir pecah. “Huaaaaaaaaaaaaaaaah………………” teriakku.
Mendengar teriakanku sendiri, aku jadi kaget dibuatnya. Suara itu, kenapa  sama? Hutama Setiawan? Hutama Setiawan itu hanya aku.
Mataku terbuka pelan-pelan. Tampak kerumunan orang-orang di sekelilingku semua berderai air mata. Lantunan ayat-ayat Tuhan bersahut-sahutan. Kutatap kain kaci yang menyelimuti diriku. “Tuhan, apa salahku?”
5 ilusi: 2014 Seperti biasa, sorak-sorai demontsrasi mahasiswa terus bersenandung menuntut hak-haknya sebagai mahasiswa. Bedanya, semakin hari sorak-sora...

Sesak dalam Pejam-pejamku yang Sesaat

Hempasan angin pantai terasa menusuk setiap rongga pori-pori kulit. Menerpa bersama deruh ombak yang menggulung. Daun gugur ikut terbang seolah telah menyatu dengan angin. Tanpa beban sedikitpun. Ranting jatuh. Mematung. Mengering. Lebih kering dari kemarin ketika ia baru saja terjatuh dari pohonnya. Sesekali beberapa burung camar hinggap kemudian terbang lagi dengan sedikit kicauan lembut yang memanjakan telinga. Kicauan yang mengingatkanku bahwa aku sedang berada di tempat yang penuh cerita ini. Pantai.

Kuhirup napas dalam-dalam, menahannya sekejap dengan mata terpejam, berharap aku bisa melalui semua dengan baik. Lalu kuhembuskan semua. Bersama sedikit gumam, bersama mata yang sudah kubuka perlahan, bersama semua harapan yang aku keluarkan sebagai doa.

Mataku sempurna tertuju pada buku catatan kecil berwarna abu-abu yang sudah sedikit usang. Bukan karena bukuku sudah lama usianya tapi karena terlalu sering kubuka. Penuh teka-teki yang setiap hari memaksaku untuk memecahkannya. Tak pernah bosan membukanya dari lembaran awal.

Seperti biasa, lembaran pertama selalu bisa membuatku tersenyum. Bukan karena tulisan yang lucu, tapi karena sebuah gambar yang penuh semangat. Sekali lagi, yang selalu bisa membuatku tersenyum.

***

“Teteh, mau minum apa?” tanya Rurun ketika kami sudah duduk di meja paling sudut kedai kopi pinggir kota ini.

“Duduk ajalah Mang, biar aku aja yang pesan, masa situ terus yang mesan, aku kan juga mau belajar mesan” sambil mengernyitkan dahi, aku memikirkan kalimat yang baru saja kuucapkan.

Rurun menyeringai karena kebingungan. Inilah awal pembicaraan yang tak bisa kami hindari.

Setelah beberapa percakapan, pesananku sudah datang. Itulah kenapa aku dan Rurun senang untuk nangkring di kedai kopi ini. Pesanannya gak perlu nunggu lama. Rurunlah yang mengenalkanku dengan kedai kopi ini. Selain karena minumannya enak, suasana dalam dan luar kedai kopi ini memang cukup menarik. Tapi sepertinya malam ini berbeda.

“Siapa lagi yang mau kesini? Ada janji sama orang lain juga ya Teh?” tanya Rurun heran.

“Gak ada kok Mang, kita aja yang akan duduk disini sampai kita pulang” jawabku yakin.

“Loh kok kamu pesan dua gelas cokelat panas, atau itu semua untuk kamu? Haus atau lapar?” Rurun selalu saja ada alasan untuk membuat aku tertawa.

“Satu untuk aku, satunya lagi untuk ususmu yang sudah keram karena penuh endapan kopi, kopi dan kopi” aku memasang muka datar agar kalimatku bisa Rurun terima.

Rurun terdiam. Kembali menikmati rokok yang dia selalu sebut ‘berbahan tembakau dari kota kretek atau The taste of Java’. Aku mengambil sesuatu dalam tas. Sebuah buku catatan baru yang tadi kubeli di toko buku sebelum kami kesini. Mulai menggambar. Menggambar sesuatu yang aku larang untuk Rurun tanyakan itu apa. Mungkin bosan, Rurun mulai menyeruput cokelat panasnya. Bukan untuk menghargai pesananku, tapi mungkin karena tenggorokannya memang mulai kering. Aku mengenalnya baik. Sebaik keluarga Rurun mengenalnya.

“Pulang yuk Teh” Rurun mematikan batang rokok ketiganya selama duduk. Melirik jam tangan hadiah dariku. Sudah pukul setengah sepuluh. Aku sudah harus di rumah sebelum jam sepuluh malam.

Seperti namaku. Hening. Penuh keheningan. Sampai-sampai ajakan pulang dari Rurun tak kudengar.
Rurun terbiasa memanggilku dengan Teteh. Gak mau kalah aku juga panggil dia dengan Mamang. Panggilan kasih sayang? Entahlah. Kami terlanjur nyaman dengan panggilan itu.

“Hening… udah hampir jam sepuluh. Waktunya pulang, besokkan kamu kuliah pagi” Rurun menyapu kepalaku. Itulah kebiasaannya ketika aku tak mendengarnya.

Aku mendongak. Kami tersenyum ketika mata kami bertemu.

“Iya, aku dengar kok Mang” aku menutup catatan dan mulai merapikan tas.

Perjalanan menuju rumahku kami habiskan dengan obrolan ringan dan tertawa bersama. Jalanannya cukup lengang seperti biasanya. Ini wajar di tempat kami. Kendaraan tidak terlalu ramai jam segini. Lima belas menit kami sudah tepat di depan rumahku.

“Makasih untuk hari ini. Ingat! gak usah begadang kalo gak ada yang perlu” kalimat bijak yang selalu saja kuucapkan setelah aku turun dari mobil. Dia hanya membalas ucapanku dengan senyumnya yang meneduhkan. Namun aku selalu mengerti dengan caranya itu.

07.40 harusnya aku sudah berada di mobil Rurun menuju kampus. Namun aku masih sibuk siap-siap di kamar. Rurun sudah dari tadi menunggu di ruang tamu. Palingan lagi asik ngobrol sama Papa. Mama? Suara Mama setiap beberapa menit memanggilku seperti manager yang memarahi pelayannya ketika terlalu lama mengantarkan pesanan.

“Cepat dikit kenapa sih, tuh kamu juga belum sarapan, ini udah jam berapa? Jangan sampai Rurun juga terlambat masuk kerja cuma karena nunggu kamu lama” gertak manager khayalanku.

“Iya Ma, entar aku makannya di mobil aja.”

Pagi ini macetnya luar biasa. Sepertinya aku terlambat lagi masuk kuliah. Rurun sudah ingin membakar rokoknya. Itulah kebiasaannya ketika bosan dengan kemacetan.

“Nepi dulu sono, Mang” Aku nyerempet rokok Rurun, membuka pintu mobil, kemudian berlari kecil menuju super market.

“Mau kemana lagi kamu Teh? Ini udah jam berapa? Kamu udah terlambat!” teriak Rurun.

“Entar dulu Mang, nepi aja dulu” aku hanya tertawa.

Rurun terpaksa menepi di kerumunan kendaraan yang terjebak macet.

 “Nih, ngemil ini aja, daripada ngisap rokok terus. Jaga kesehatan dikit kamu Mang. Percaya aku deh. Dulu Papa juga dipaksa ngemil itu sama mama supaya bisa berhenti merokok” aku membuka cemilan yang lebih mirip permen karet itu.

Rurun menyeringai kecil. Sedikit bersungut-sungut karena rokoknya baru saja aku buang di tempat sampah super market tadi.

“Ya udah, kali ini aku nurut” ucap Rurun sedikit kesal.

“Kali ini? Jangan Cuma kali ini. Jadikan kebiasaan Mang. Supaya rokoknya perlahan ditinggalin.” Aku menyikunya dengan tangan kananku dengan sedikit anggukan kepala tanda kita harus melanjutkan perjalanan.

“Ya udah makasih” agak datar. Aku menutup mulut, hendak menahan tawa, tapi tak bisa. Kami tertawa
.
***

Lamunanku buyar. Aku memalingkan pandanganku. Hanya beberapa langkah di sampingku, beberapa anak jalanan sedang berbincang. Sepertinya pembicaraannya agak serius. Ya, mereka menghitung berapa banyak uang yang mereka dapatkan sampai sore ini. Tapi entah kenapa, aku mengira mereka akan berwajah lusuh, tapi ternyata tidak. Mereka tertawa. Begitu lepas. Begitu hangat. Mereka seperti sudah bersahabat dengan semua situasi yang selama ini masih sering aku keluhkan. Aku tersenyum. Tersentuh.

Halaman buku catatanku sudah hampir selesai setengahnya kubaca. Semuanya terasa singkat bagiku di lembaran-lembaran tadi. Kekonyolan, kebingungan dan segala ketidakjelasan yang kami lalui. Penuh tawa.

***

Tuuttt…tuuttt…tuuttt. Nomor Rurun tak bisa dihubungi. Harusnya mobilnya sudah terparkir manis di depan gerbang kampusku. Sepertinya aku harus pulang sendiri sore ini. Mungkin Rurun ada keperluan kerja yang tidak bisa dia tunda hanya untuk mengantarku pulang. Meskipun aku pacarnya, aku harus selalu bisa mengerti itu.

***

Cahaya kuning-kemerahan menerpa dari ufuk barat sana. Menyelah di setiap dedaunan pohon mangga depan rumahku. Jalanan depan rumah masih basah karena hujan selama perjalananku pulang menuju rumah tadi. Secangkir teh, kugenggam sambil manggut-manggut menuju beranda rumah. Saat sekarang ini, teras rumah adalah tempat yang tepat untuk menikmati senja.

***

Aku mulai menyeruput teh panasku dan mengambil telepon genggam. Hendak mencari tahu kabar Rurun. Nada yang sama. Masih belum bisa dihubungi. Aku mulai khawatir. Tidak seperti biasanya, Rurunlah yang pertama kali menghubungiku. Khawatirku menjadi-jadi setelah aku menelepon rumah Rurun. Bibi yang mengangkat telepon.

Rurun adalah yatim piatu sejak usianya masuk 20 tahun. Bibi memang sudah membantu keluarganya sejak Rurun masih kecil. Rurun sudah menganggapnya sebagai orang tua sendiri.

“Bibi juga gak tau nak, terakhir Rurun keluar pas mau kerja.” Jawabnya biasa

“Iya bi, tadi Mamang jemput kok dirumah. Tapi kok susah banget yah hubungin dia” aku mulai panik.

“Oh gitu toh, entarlah nak, kalo Rurun udah nyampe rumah, entar bibi sampein. Palingan baterai hapenya udah habis”. Bibi berusaha menenangkanku.

“Iyalah bi. Ya udah bi, makasih” telepon masih kugenggam dengan perasaan resah. Resah yang kubawa hingga aku terlelap di malam hari. Masih tanpa kabar dari Rurun.

Setelah hari itu, aku merasa pincang tanpa Rurun. Dia masih belum ada kabar. Bukan Cuma seminggu yang aku lalui hingga saat ini. Seminggu? Sebulan? Tidak. Tiga bulan telah berlalu aku tanpanya. Aku terlelap tanpanya. Hanya ingatan menyesakkan yang mengantarkanku pada kantuk yang melelahkan. Hingga aku tertidur. Hingga aku belajar untuk terbiasa. Tapi kutahu itu sakit.

Bisakah aku melalui tiga bulan ini dengan ingatanku selama dua tahun kebahagiaan bersamanya? Ya Tuhan, kemanakah kau menyembunyikan Rurun? Tempat macam apakah kau menyimpannya? Aku hanya melihatnya dalam mimpi. Merangkulku berjalan di pesisir pantai. Menungguku di rumah dan di kampus. Menemaniku berwisata kuliner. Menemani saat malam ulang tahunku. Menemani di bahagia dan sedihku. Menemaniku, menemaniku dan selalu ada alasan untuk berada di sampingku. Tapi itu dulu. Aku tak melihatnya sekarang berada di sampingku. Bahkan saat aku benar-benar membutuhkannya. Aku butuh kamu, Mang. Aku kangen kamu, Mang.

***

Bukan. Bukan debu. Bukan pula kerasnya angin laut yang membuat mataku perih dan mengeluarkan air mata. Entah kenapa, air mata mulai merekah di kedua pelupuk mataku. Menetes tanpa izin. Cukup banyak untuk membasahi pipiku. Aku tak menyeka pipiku, namun menyeka air mataku yang sudah menetesi lembaran setelahnya. Nafasku tersengal.

Keheningan seketika membungkus pantai. Gemuruh ombak sepertinya telah bosan untuk berkejaran mencapai bibir pantai. Angin menjadi malu untuk berhembus. Anak jalanan yang tadinya sedang tertawa riang kini serempak melihat ke arahku. Mereka menatapku lamat-lamat. Apakah mereka mengetahui apa yang aku rasakan? Ataukah aku yang memang tak bisa menyembunyikan tangis dan kesedihan ini? Entahlah, semua seolah berbarengan membisikkanku akan kenangan.

***

Hanya cahaya samar yang tercarik di mata kananku. Beberapa suara yang tak asing terus-menerus memanggil namaku. Perlahan aku mencoba membuka mata. Aku sadar mataku sudah sempurna terbuka lebar. Tapi aku belum bisa melihat jelas orang-orang yang sedari tadi memanggil namaku. Aku tahu itu Papa dan Mama. Aku mengenal suaranya.

Ya. Kini aku bisa melihat mereka dengan jelas. Sejelas aku mengenali bahwa aku sementara terbaring di rumah sakit. Walaupun aku sudah lama tak berada di tempat ini, aku yakin, aku tidak sedang baik-baik saja. Hal terakhir yang aku ingat adalah aku sedang berada dalam perjalanan ke kampus. Aku sedang duduk dalam angkot.

“Syukurlah kau sudah sadar, nak” ucap Mama cemas.

“Ada apa denganku, Ma?” tanyaku tak kalah cemasnya.

“Tadi kamu mengalami kecelakaan, nak. Untunglah kamu tidak terlalu parah”. Papa menyapuh kepalaku lembut. Menatapku lamat-lamat, tapi cukup meneduhkan.

Aku merabah mata kiriku. Aku bertambah yakin, aku tidak sedang baik-baik saja. Papa baru saja berbohong. Mana mungkin aku tidak parah jika mata kiriku sedang diperban.

“Lalu kenapa mata kiriku diperban?” nadaku sedikit merengeh.

“Itu cuma perban biasa kok, sayang. Palingan besok sudah bisa kamu buka. Hanya tidak sekarang ya, nak?” Aku tahu Mama dan Papa ingin menenangkanku.

Aku menghela nafas. Hanya bisa terdiam dan berusaha mengingat apa yang telah menimpaku. Kepalaku hanya pusing ketika berusaha mengingatnya. Sudahlah, besok juga pasti aku sudah keluar dari rumah sakit ini.

10.10.
“Loh Ma, sayakan sudah keluar, tapi kok perban di mata kiriku belum dibuka?” aku berusaha bangkit dari pembaringan rumah sakit ini

“Iya, sayang. Kita ga boleh langsung buka gitu aja. Harus ada perintah dari dokter, baru bisa kamu buka. Sabar ya, nak?” Mama kelihatan sibuk merapikan barang-barang persiapan pulang.

Aku mendapat kabar dari Mama, bahwa besok kita harus cek lagi ke rumah sakit. Katanya mau periksa keadaan mata kiriku ini. Semua bertambah membingungkan setelah pemeriksaannya selesai. Aku harus cepat dioperasi. Retina mata kiriku sudah tidak berfungsi. Aku sudah kehilangan mata kiriku. Aku butuh pendonor retina.

Namun yang terlintas di kepalaku adalah Rurun. Aku lebih membutuhkannya dibandingkan pendonor untuk mataku ini. Sepuluh hari lagi aku berulang tahun. Aku tak mau melewatkannya tanpa Rurun. Aku tak mau semua kepedihan ini adalah kado ulang tahunku. Aku membenci keadaanku.

***

Satu tahun melesat cepat. Keheningan yang tadi menyapaku kini berubah seketika. Gerimis tiba-tiba membungkus pantai dan sekitarnya. Aku tak merasakannya. Tempatku duduk mempunyai atap. Sepertinya terbuat oleh dedaunan yang dianyam. Menghalangi kulitku yang menginginkan terpaan gerimis yang lembut.

Buku catatan yang kubuka sudah hampir tiba pada lembaran akhir. Mataku tertuju pada kalimat, ‘Jangan biarkan mata ini meneteskan air mata’.

Itu tulisan Rurun. Rurunlah yang menulis sebagian akhir buku catatan ini. Rurun mengambilnya saat aku keluar untuk membeli permen pengganti rokok itu. Rurun pergi membawa buku ini. Buku catatan inilah yang menjelaskan semua kebingungan itu. Buku catatan inilah yang menjelaskan bahwa perginya atas sebuah alasan.

‘Teh,,, Walaupun ini sudah jauh dari halaman pertama, jangan lupa untuk selalu tersenyum’
‘Maaf aku pergi tanpa pamit. Maaf pula aku pergi membawa buku catatan ini tanpa izinmu. Aku ingin iya yang akan menjelaskan semuanya padamu’

‘Aku pergi karena suatu alasan. Aku mengidap penyakit yang tidak akan pernah bisa kukatakan padamu. Aku tak bisa membuatmu sedih mengetahuinya. Aku mengidap kanker stadium akhir. Semuanya karena rokok dan kopi yang selama ini kau khawatirkan dapat membuatku sakit nantinya. Itu adalah akhirnya.

‘Dan sebelum semuanya berakhir. Izinkan aku menitipkan mata ini untuk kau jaga baik-baik. Berbahagialah bersamanya seperti dulu kau berbahagia bersamaku. Maaf aku tak bisa lagi menemanimu di hari ulang tahunmu. Izinkan aku menjadikan mataku sebagai kado ulang tahunmu’

‘Maaf pula aku menitipkan janji untuk terus bersama pada sebuah bola mata. Percayalah, kita masih berdampingan, masih bersama, dan masih beriringan.

Rurun mengetahui semua yang kualami selama 3 bulan terakhir. Rurun berada di luar negeri untuk berobat. Menjalani serangkaian operasi atas penyakit kankernya itu. Namun, semuanya negatif. Rurun hanya memiliki waktu 14 hari lagi dalam hidupnya. Rurun tak akan mungkin bisa mengatakan semua itu padaku. Setelah mengetahui kabarku yang membutuhkan donor retina, Rurun kembali untuk memberikan retinanya tanpa sepengetahuan siapapun. Hanya buku catatan inilah yang mengetahuinya. Buku catatan inilah yang mengatakan segala luka yang tersembunyi. Buku catatan dan mata inilah kado terindah yang pernah kuterima.

24 November 2013
Sebelum Fajar Menyingsing

*Reza Arfan, penulis adalah Mahasiswa Fakultas Psikologi  Universitas Negeri Makassar Angkatan 2012.
5 ilusi: 2014 Hempasan angin pantai terasa menusuk setiap rongga pori-pori kulit. Menerpa bersama deruh ombak yang menggulung. Daun gugur ikut terbang se...
< >