Menebar benih rumput liar
Pupuknya angka-angka bernama miliar
Disiram dengan senyum serigala
Dipetik oleh jabat-jabat berkoper kolusi
Jangan tunggu bunga mawar yang mekar
Sebab rumput liar yang kau tebar
Pahlawan seabad lalu tersedu
Di atas debu
Menunggu genetika pecinta Bangsa
Namun apa daya
Penguasa haus kuasa dan harta
Benih subur kau kubur
Kerana tiada pembuluh darah
Yang mengalir ke tanah
Benih sbubur kau layukan
Kerana tiada tamparan
Segepok kertas merah di atas meja
Dan kau tekan
Hingga mereka tertelan kecewa
Lalu kau galih benih rumput
Liar hingga tumbuh mekar
Mengakar kekar pada
Mahkota bangsa
Mengapa segaris senyuman iblisnya
Dengan mudah buat kau tergoda setengah mati?
Seketika, jalan lurus langsung kau
pasangi pagar bercadar imingiming
Kemudian kau menebar kata,
mengagungkan ritual-ritual kejujuran yang sudah jadi
bahasa mantramu
di depan wartawan
Sampai geligi-geligimu rontok
Oleh rokok busuk produkmu sendiri
Jangan tunggu Cosamas
Duaribu duabelas
Karena bangku cerdas
Disiapkan hanya untuk calon
Korupsi berkelas.
Watampone, 28 Mei 2012
*Amirah Mustafah, penulis adalah Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar Angkatan 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar