Hempasan
angin pantai terasa menusuk setiap rongga pori-pori kulit. Menerpa bersama
deruh ombak yang menggulung. Daun gugur ikut terbang seolah telah menyatu
dengan angin. Tanpa beban sedikitpun. Ranting jatuh. Mematung. Mengering. Lebih
kering dari kemarin ketika ia baru saja terjatuh dari pohonnya. Sesekali
beberapa burung camar hinggap kemudian terbang lagi dengan sedikit kicauan
lembut yang memanjakan telinga. Kicauan yang mengingatkanku bahwa aku sedang
berada di tempat yang penuh cerita ini. Pantai.
Kuhirup
napas dalam-dalam, menahannya sekejap dengan mata terpejam, berharap aku bisa
melalui semua dengan baik. Lalu kuhembuskan semua. Bersama sedikit gumam,
bersama mata yang sudah kubuka perlahan, bersama semua harapan yang aku
keluarkan sebagai doa.
Mataku
sempurna tertuju pada buku catatan kecil berwarna abu-abu yang sudah sedikit
usang. Bukan karena bukuku sudah lama usianya tapi karena terlalu sering kubuka.
Penuh teka-teki yang setiap hari memaksaku untuk memecahkannya. Tak pernah
bosan membukanya dari lembaran awal.
Seperti biasa, lembaran pertama selalu bisa
membuatku tersenyum. Bukan karena tulisan yang lucu, tapi karena sebuah gambar
yang penuh semangat. Sekali lagi, yang selalu bisa membuatku tersenyum.
***
“Teteh,
mau minum apa?” tanya Rurun ketika kami sudah duduk di meja paling sudut kedai
kopi pinggir kota ini.
“Duduk
ajalah Mang, biar aku aja yang pesan, masa situ terus yang mesan, aku kan juga
mau belajar mesan” sambil mengernyitkan dahi, aku memikirkan kalimat yang baru
saja kuucapkan.
Rurun
menyeringai karena kebingungan. Inilah awal pembicaraan yang tak bisa kami
hindari.
Setelah
beberapa percakapan, pesananku sudah datang. Itulah kenapa aku dan Rurun senang
untuk nangkring di kedai kopi ini. Pesanannya gak perlu nunggu lama. Rurunlah
yang mengenalkanku dengan kedai kopi ini. Selain karena minumannya enak,
suasana dalam dan luar kedai kopi ini memang cukup menarik. Tapi sepertinya
malam ini berbeda.
“Siapa
lagi yang mau kesini? Ada janji sama orang lain juga ya Teh?” tanya Rurun
heran.
“Gak
ada kok Mang, kita aja yang akan duduk disini sampai kita pulang” jawabku
yakin.
“Loh
kok kamu pesan dua gelas cokelat panas, atau itu semua untuk kamu? Haus atau
lapar?” Rurun selalu saja ada alasan untuk membuat aku tertawa.
“Satu
untuk aku, satunya lagi untuk ususmu yang sudah keram karena penuh endapan
kopi, kopi dan kopi” aku memasang muka datar agar kalimatku bisa Rurun terima.
Rurun
terdiam. Kembali menikmati rokok yang dia selalu sebut ‘berbahan tembakau dari
kota kretek atau The taste of Java’. Aku mengambil sesuatu dalam tas. Sebuah
buku catatan baru yang tadi kubeli di toko buku sebelum kami kesini. Mulai
menggambar. Menggambar sesuatu yang aku larang untuk Rurun tanyakan itu apa.
Mungkin bosan, Rurun mulai menyeruput cokelat panasnya. Bukan untuk menghargai
pesananku, tapi mungkin karena tenggorokannya memang mulai kering. Aku
mengenalnya baik. Sebaik keluarga Rurun mengenalnya.
“Pulang
yuk Teh” Rurun mematikan batang rokok ketiganya selama duduk. Melirik jam
tangan hadiah dariku. Sudah pukul setengah sepuluh. Aku sudah harus di rumah
sebelum jam sepuluh malam.
Seperti
namaku. Hening. Penuh keheningan. Sampai-sampai ajakan pulang dari Rurun tak
kudengar.
Rurun
terbiasa memanggilku dengan Teteh. Gak mau kalah aku juga panggil dia dengan
Mamang. Panggilan kasih sayang? Entahlah. Kami terlanjur nyaman dengan
panggilan itu.
“Hening…
udah hampir jam sepuluh. Waktunya pulang, besokkan kamu kuliah pagi” Rurun
menyapu kepalaku. Itulah kebiasaannya ketika aku tak mendengarnya.
Aku
mendongak. Kami tersenyum ketika mata kami bertemu.
“Iya,
aku dengar kok Mang” aku menutup catatan dan mulai merapikan tas.
Perjalanan
menuju rumahku kami habiskan dengan obrolan ringan dan tertawa bersama.
Jalanannya cukup lengang seperti biasanya. Ini wajar di tempat kami. Kendaraan
tidak terlalu ramai jam segini. Lima belas menit kami sudah tepat di depan
rumahku.
“Makasih
untuk hari ini. Ingat! gak usah begadang kalo gak ada yang perlu” kalimat bijak
yang selalu saja kuucapkan setelah aku turun dari mobil. Dia hanya membalas
ucapanku dengan senyumnya yang meneduhkan. Namun aku selalu mengerti dengan
caranya itu.
07.40
harusnya aku sudah berada di mobil Rurun menuju kampus. Namun aku masih sibuk
siap-siap di kamar. Rurun sudah dari tadi menunggu di ruang tamu. Palingan lagi
asik ngobrol sama Papa. Mama? Suara Mama setiap beberapa menit memanggilku
seperti manager yang memarahi pelayannya ketika terlalu lama mengantarkan
pesanan.
“Cepat
dikit kenapa sih, tuh kamu juga belum sarapan, ini udah jam berapa? Jangan
sampai Rurun juga terlambat masuk kerja cuma karena nunggu kamu lama” gertak
manager khayalanku.
“Iya
Ma, entar aku makannya di mobil aja.”
Pagi
ini macetnya luar biasa. Sepertinya aku terlambat lagi masuk kuliah. Rurun
sudah ingin membakar rokoknya. Itulah kebiasaannya ketika bosan dengan
kemacetan.
“Nepi
dulu sono, Mang” Aku nyerempet rokok Rurun, membuka pintu mobil, kemudian
berlari kecil menuju super market.
“Mau
kemana lagi kamu Teh? Ini udah jam berapa? Kamu udah terlambat!” teriak Rurun.
“Entar
dulu Mang, nepi aja dulu” aku hanya tertawa.
Rurun
terpaksa menepi di kerumunan kendaraan yang terjebak macet.
“Nih,
ngemil ini aja, daripada ngisap rokok terus. Jaga kesehatan dikit kamu Mang.
Percaya aku deh. Dulu Papa juga dipaksa ngemil itu sama mama supaya bisa
berhenti merokok” aku membuka cemilan yang lebih mirip permen karet itu.
Rurun
menyeringai kecil. Sedikit bersungut-sungut karena rokoknya baru saja aku buang
di tempat sampah super market tadi.
“Ya
udah, kali ini aku nurut” ucap Rurun sedikit kesal.
“Kali
ini? Jangan Cuma kali ini. Jadikan kebiasaan Mang. Supaya rokoknya perlahan
ditinggalin.” Aku menyikunya dengan tangan kananku dengan sedikit anggukan
kepala tanda kita harus melanjutkan perjalanan.
“Ya
udah makasih” agak datar. Aku menutup mulut, hendak menahan tawa, tapi tak
bisa. Kami tertawa
.
***
Lamunanku
buyar. Aku memalingkan pandanganku. Hanya beberapa langkah di sampingku, beberapa
anak jalanan sedang berbincang. Sepertinya pembicaraannya agak serius. Ya,
mereka menghitung berapa banyak uang yang mereka dapatkan sampai sore ini. Tapi
entah kenapa, aku mengira mereka akan berwajah lusuh, tapi ternyata tidak.
Mereka tertawa. Begitu lepas. Begitu hangat. Mereka seperti sudah bersahabat
dengan semua situasi yang selama ini masih sering aku keluhkan. Aku tersenyum.
Tersentuh.
Halaman
buku catatanku sudah hampir selesai setengahnya kubaca. Semuanya terasa singkat
bagiku di lembaran-lembaran tadi. Kekonyolan, kebingungan dan segala
ketidakjelasan yang kami lalui. Penuh tawa.
***
Tuuttt…tuuttt…tuuttt.
Nomor Rurun tak bisa dihubungi. Harusnya mobilnya sudah terparkir manis di
depan gerbang kampusku. Sepertinya aku harus pulang sendiri sore ini. Mungkin
Rurun ada keperluan kerja yang tidak bisa dia tunda hanya untuk mengantarku
pulang. Meskipun aku pacarnya, aku harus selalu bisa mengerti itu.
***
Cahaya
kuning-kemerahan menerpa dari ufuk barat sana. Menyelah di setiap dedaunan pohon
mangga depan rumahku. Jalanan depan rumah masih basah karena hujan selama
perjalananku pulang menuju rumah tadi. Secangkir teh, kugenggam sambil
manggut-manggut menuju beranda rumah. Saat sekarang ini, teras rumah adalah
tempat yang tepat untuk menikmati senja.
***
Aku
mulai menyeruput teh panasku dan mengambil telepon genggam. Hendak mencari tahu
kabar Rurun. Nada yang sama. Masih belum bisa dihubungi. Aku mulai khawatir.
Tidak seperti biasanya, Rurunlah yang pertama kali menghubungiku. Khawatirku
menjadi-jadi setelah aku menelepon rumah Rurun. Bibi yang mengangkat telepon.
Rurun
adalah yatim piatu sejak usianya masuk 20 tahun. Bibi memang sudah membantu
keluarganya sejak Rurun masih kecil. Rurun sudah menganggapnya sebagai orang
tua sendiri.
“Bibi
juga gak tau nak, terakhir Rurun keluar pas mau kerja.” Jawabnya biasa
“Iya
bi, tadi Mamang jemput kok dirumah. Tapi kok susah banget yah hubungin dia” aku
mulai panik.
“Oh
gitu toh, entarlah nak, kalo Rurun udah nyampe rumah, entar bibi sampein.
Palingan baterai hapenya udah habis”. Bibi berusaha menenangkanku.
“Iyalah
bi. Ya udah bi, makasih” telepon masih kugenggam dengan perasaan resah. Resah
yang kubawa hingga aku terlelap di malam hari. Masih tanpa kabar dari Rurun.
Setelah
hari itu, aku merasa pincang tanpa Rurun. Dia masih belum ada kabar. Bukan Cuma
seminggu yang aku lalui hingga saat ini. Seminggu? Sebulan? Tidak. Tiga bulan
telah berlalu aku tanpanya. Aku terlelap tanpanya. Hanya ingatan menyesakkan
yang mengantarkanku pada kantuk yang melelahkan. Hingga aku tertidur. Hingga
aku belajar untuk terbiasa. Tapi kutahu itu sakit.
Bisakah
aku melalui tiga bulan ini dengan ingatanku selama dua tahun kebahagiaan
bersamanya? Ya Tuhan, kemanakah kau menyembunyikan Rurun? Tempat macam apakah
kau menyimpannya? Aku hanya melihatnya dalam mimpi. Merangkulku berjalan di
pesisir pantai. Menungguku di rumah dan di kampus. Menemaniku berwisata
kuliner. Menemani saat malam ulang tahunku. Menemani di bahagia dan sedihku.
Menemaniku, menemaniku dan selalu ada alasan untuk berada di sampingku. Tapi
itu dulu. Aku tak melihatnya sekarang berada di sampingku. Bahkan saat aku
benar-benar membutuhkannya. Aku butuh kamu, Mang. Aku kangen kamu, Mang.
***
Bukan.
Bukan debu. Bukan pula kerasnya angin laut yang membuat mataku perih dan
mengeluarkan air mata. Entah kenapa, air mata mulai merekah di kedua pelupuk mataku.
Menetes tanpa izin. Cukup banyak untuk membasahi pipiku. Aku tak menyeka
pipiku, namun menyeka air mataku yang sudah menetesi lembaran setelahnya.
Nafasku tersengal.
Keheningan
seketika membungkus pantai. Gemuruh ombak sepertinya telah bosan untuk
berkejaran mencapai bibir pantai. Angin menjadi malu untuk berhembus. Anak
jalanan yang tadinya sedang tertawa riang kini serempak melihat ke arahku.
Mereka menatapku lamat-lamat. Apakah mereka mengetahui apa yang aku rasakan?
Ataukah aku yang memang tak bisa menyembunyikan tangis dan kesedihan ini?
Entahlah, semua seolah berbarengan membisikkanku akan kenangan.
***
Hanya
cahaya samar yang tercarik di mata kananku. Beberapa suara yang tak asing
terus-menerus memanggil namaku. Perlahan aku mencoba membuka mata. Aku sadar
mataku sudah sempurna terbuka lebar. Tapi aku belum bisa melihat jelas
orang-orang yang sedari tadi memanggil namaku. Aku tahu itu Papa dan Mama. Aku
mengenal suaranya.
Ya.
Kini aku bisa melihat mereka dengan jelas. Sejelas aku mengenali bahwa aku
sementara terbaring di rumah sakit. Walaupun aku sudah lama tak berada di
tempat ini, aku yakin, aku tidak sedang baik-baik saja. Hal terakhir yang aku
ingat adalah aku sedang berada dalam perjalanan ke kampus. Aku sedang duduk
dalam angkot.
“Syukurlah
kau sudah sadar, nak” ucap Mama cemas.
“Ada
apa denganku, Ma?” tanyaku tak kalah cemasnya.
“Tadi
kamu mengalami kecelakaan, nak. Untunglah kamu tidak terlalu parah”. Papa
menyapuh kepalaku lembut. Menatapku lamat-lamat, tapi cukup meneduhkan.
Aku
merabah mata kiriku. Aku bertambah yakin, aku tidak sedang baik-baik saja. Papa
baru saja berbohong. Mana mungkin aku tidak parah jika mata kiriku sedang
diperban.
“Lalu
kenapa mata kiriku diperban?” nadaku sedikit merengeh.
“Itu
cuma perban biasa kok, sayang. Palingan besok sudah bisa kamu buka. Hanya tidak
sekarang ya, nak?” Aku tahu Mama dan Papa ingin menenangkanku.
Aku
menghela nafas. Hanya bisa terdiam dan berusaha mengingat apa yang telah
menimpaku. Kepalaku hanya pusing ketika berusaha mengingatnya. Sudahlah, besok
juga pasti aku sudah keluar dari rumah sakit ini.
10.10.
“Loh
Ma, sayakan sudah keluar, tapi kok perban di mata kiriku belum dibuka?” aku
berusaha bangkit dari pembaringan rumah sakit ini
“Iya,
sayang. Kita ga boleh langsung buka gitu aja. Harus ada perintah dari dokter,
baru bisa kamu buka. Sabar ya, nak?” Mama kelihatan sibuk merapikan
barang-barang persiapan pulang.
Aku
mendapat kabar dari Mama, bahwa besok kita harus cek lagi ke rumah sakit.
Katanya mau periksa keadaan mata kiriku ini. Semua bertambah membingungkan
setelah pemeriksaannya selesai. Aku harus cepat dioperasi. Retina mata kiriku
sudah tidak berfungsi. Aku sudah kehilangan mata kiriku. Aku butuh pendonor
retina.
Namun
yang terlintas di kepalaku adalah Rurun. Aku lebih membutuhkannya dibandingkan
pendonor untuk mataku ini. Sepuluh hari lagi aku berulang tahun. Aku tak mau
melewatkannya tanpa Rurun. Aku tak mau semua kepedihan ini adalah kado ulang
tahunku. Aku membenci keadaanku.
***
Satu
tahun melesat cepat. Keheningan yang tadi menyapaku kini berubah seketika.
Gerimis tiba-tiba membungkus pantai dan sekitarnya. Aku tak merasakannya.
Tempatku duduk mempunyai atap. Sepertinya terbuat oleh dedaunan yang dianyam.
Menghalangi kulitku yang menginginkan terpaan gerimis yang lembut.
Buku
catatan yang kubuka sudah hampir tiba pada lembaran akhir. Mataku tertuju pada
kalimat, ‘Jangan biarkan mata ini meneteskan
air mata’.
Itu
tulisan Rurun. Rurunlah yang menulis sebagian akhir buku catatan ini. Rurun mengambilnya
saat aku keluar untuk membeli permen pengganti rokok itu. Rurun pergi membawa
buku ini. Buku
catatan inilah yang menjelaskan semua kebingungan itu. Buku catatan inilah yang
menjelaskan bahwa perginya atas sebuah alasan.
‘Teh,,, Walaupun ini sudah jauh
dari halaman pertama, jangan lupa untuk selalu tersenyum’
‘Maaf aku pergi tanpa pamit. Maaf
pula aku pergi membawa buku catatan ini tanpa izinmu. Aku ingin iya yang akan
menjelaskan semuanya padamu’
‘Aku pergi karena suatu alasan. Aku
mengidap penyakit yang tidak akan pernah bisa kukatakan padamu. Aku tak bisa
membuatmu sedih mengetahuinya. Aku mengidap kanker stadium akhir. Semuanya
karena rokok dan kopi yang selama ini kau khawatirkan dapat membuatku sakit
nantinya. Itu adalah akhirnya.
‘Dan sebelum semuanya berakhir.
Izinkan aku menitipkan mata ini untuk kau jaga baik-baik. Berbahagialah
bersamanya seperti dulu kau berbahagia bersamaku. Maaf aku tak bisa lagi
menemanimu di hari ulang tahunmu. Izinkan aku menjadikan mataku sebagai kado
ulang tahunmu’
‘Maaf pula aku menitipkan janji
untuk terus bersama pada sebuah bola mata. Percayalah, kita masih berdampingan,
masih bersama, dan masih beriringan.
Rurun
mengetahui semua yang kualami selama 3 bulan terakhir. Rurun berada di luar
negeri untuk berobat. Menjalani serangkaian operasi atas penyakit kankernya
itu. Namun, semuanya negatif. Rurun hanya memiliki waktu 14 hari lagi dalam
hidupnya. Rurun tak akan mungkin bisa mengatakan semua itu padaku. Setelah
mengetahui kabarku yang membutuhkan donor retina, Rurun kembali untuk
memberikan retinanya tanpa sepengetahuan siapapun. Hanya buku catatan inilah
yang mengetahuinya. Buku catatan inilah yang mengatakan segala luka yang
tersembunyi. Buku catatan dan mata inilah kado terindah yang pernah kuterima.
24 November 2013
Sebelum Fajar
Menyingsing
*Reza Arfan, penulis adalah Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar Angkatan 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar