Selalu menyenangkan menyaksikan kota malam hari,
begitu tenang; tanpa serapah dan caci maki, sayang malam hari di kota
banyak yang mati.
Menyaksikan langit malam, menyaksikan kenangan.
Mengira-ngira suasana pegunungan; sedang apa kabut bersama dedaunan?
Menyaksikan nisanmu, mengenang tawamu. Mengira-ngira
sepi di makammu; adakah telinga malaikat penjaga makam mendengar sebaik
telingaku dulu?
Merupai waktu, merupai senyummu. Menerka-nerka
lelaki yang mengisi ruang rasamu; apakah aku, atau memang lelakimu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar