Seperti biasa, sorak-sorai demontsrasi
mahasiswa terus bersenandung menuntut hak-haknya sebagai mahasiswa. Bedanya,
semakin hari sorak-sorai itu berangsur gemulai bak nyanyian nina bobo buat
pimpinan. Bukannya menggertak agar Si Pimpinan, Prof. DR. Hutama Setiawan, M.Pd
bangun dari buaiannya malah Pimpinan semakin tertidur pulas tanpa belas kasih.
Lagi-lagi, serentetan kalimat opini di Koran lokal
kampus Universitas Permai Makassar menjadi sarapan pagiku. Aku cengengesan dibuatnya.
“Untuk apa mereka berbuat semua itu jika prioritasku bukan mereka. Kasihan!”
Kuteguk secangkir kopi hangat buatan istriku,
cukup menghangatkan lambungku, lantas apalagi kupedulikan jika sudah pewe
(perasaan weenak) seperti ini? Aku sudah terlanjur nyaman.
***
Pagi-pagi tadi, lagi-lagi ada aksi demonstrasi
mahasiswa di depan tempat kerjaku, menuntut hak katanya, demonstrasi itu akan
berlangsung selama seminggu jika tak direspon mereka akan bertindak kasar,
begitu kabar yang kudengar. “Dasar anak kecil!” batinku. Kuisap dalam-dalam
sebatang cigarette Marlboro
mengiringi imajinasiku terwujudnya impian-impian masa kecilku.
Berpakaian rapi, berdasi, lalu dibalut jas
licin mengkilap dengan celana yang serasi, sepatu excellent kualitas impor, dan berkantor di gedung mewah pencakar
langit yang buas hampir benar-benar terwujud sempurna. Sedikit lagi, tinggal
beberapa hari aku menunggu. Oh, sudah tak sabar rasanya.
“Permisi, Pak!” tegur seorang pria berperawakan
tinggi, berkemeja putih, dan bercelana hitam di balik pintu ruangan pribadiku.
Lamunanku buyar seketika.
“Iya, silakan masuk!”
“Begini, Pak, mahasiswa di bawah sedang demo.
Bagaimana ini, Pak?”
Aku mendesis. “Santai saja! mereka akan sadar
sendiri nantinya. Katanya mahasiswa, kaum intelek, agent of change, lantas masih teriak-teriak seperti anak kecil
begitu? Kapan perubahan itu akan ditunaikan? Lewat teriakan? Apakah hanya
dengan teriakan maka dunia kan berubah? Tak semudah itu, Boy. Memangnya mereka
penyihir.”
Pemuda yang kusapa akrab dengan Boy itu menelan
ludah tak berkutik. Lalu, pelan-pelan ia mundur dan keluar dari ruangan tanpa
sepatah kata.
“Haha… Dasar anak-anak jaman sekarang!”
Menuntut hak? Dua kata itu menari di pikiranku.
Hak apa yang mereka tuntut sementara kewajiban belum ditunaikan.
“Toktoktok….” Pintu ruanganku kembali diketuk
oleh orang yang sama sebelumnya.
“Iya, silakan masuk!”
“Pak, mahasiswa di bawah hendak ke ruangan ini.
Bagaimana ini, Pak? Haruskah saya membiarkannya?”
Aku mendesis. “Santai saja! mereka akan sadar
sendiri nantinya. Katanya mahasiswa, kaum intelek, agent of change, lantas tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tindakan
mereka pasti cerdas. Mereka takkan melakukan apa-apa, paling meminta dengan
muka pias dan selesai.”
Pemuda itu kembali mundur tanpa sepatah kata.
Kucoba mengintip dari balik jendela. Ratusan
mahasiswa dengan pakaian serba hitam memenuhi halaman Gedung Rektorat. Hati
kecilku berbisik.
“Oh, mahasiswaku… kasihan sekali kalian.
Teriakan-teriakan itu takkan menciptakan perubahan.”
Sayup-sayup terdengar teriakan saling
bersahut-sahutan dari mereka,”Hidup Mahasiswa… Hidup!!! Hidup Mahasiswa…
Hidup!!! Hidup Mahasiswa… Hidup!!!”
“Take
action, katanya. Itukah aksi dari mahasiswa? Sedangkal itukah?” Aku
bergumam.” Harusnya mereka belajar dengan benar, mengisi otak dan kemampuan
bukan melatih mulut mengoceh. Menjuarai setiap olimpiade-olimpiade dan
kompetisi-kompetisi nasional dan internasional, itu baru mahasiswa.”
“Pakaiannya saja tidak menunjukkan identitas
sebagai mahasiswa, apa bedanya dengan penghuni pinggir jalanan? Mereka hanya
tahu menuntut, kasian Indonesia, generasinya hanya pandai bicara.” Kunyalakan
lagi sebatang cigarette Marlboro lalu
kuisap dalam-dalam.
“Tok…tok…tok…”
“Silakan masuk!”
Tiba-tiba pintu ruanganku terbuka dengan kasar.
Blukkk… gagangnya menumpu dinding dan meninggalkan bekas tekanan kuat. Aku
kaget dibuatnya.
“Permisi…” ucap seorang pemuda berperawakan
tinggi dengan pakaian yang awut-awutan. Dingin dan angkuh.
Aku terdiam. “Bisa saya masuk, Pak Rektor?”
katanya sedikit lebih sopan.
“Mm… boleh. Tentu saja. Mari masuk!”
kupersilakan pemuda itu masuk dan duduk di kursi tamu.
“Terima kasih. Tidak usah, Pak. Saya tidak mau
basa-basi. Bagaimana kalau langsung saja ke inti pembicaraan?”
Hm… aku menahan tawa. Saya mencoba menyalaminya
dahulu. Pemuda itu, yang tidak lain adalah mahasiswaku tentunya tidak menolak.
“Hutama…” ucapnya dingin
Kening saya mengerut. “Bisa lebih sopan, Anak
Muda?”
Ia tersenyum.”Nama saya Hutama, Pak.”
Aku pun tersenyum. Ia malah menjabat kuat
tanganku.
“Nama lengkapmu?”
“Hutama Setiawan.”
“Katanya tidak mau basa-basi? Lantas apa tujuan
kemari?”
“Saya tidak basa-basi, Pak. Nama saya Hutama
Setiawan. Yang punya impian berpakaian rapi, berdasi, lalu dibalut jas licin
mengkilap dengan celana yang serasi, sepatu excellent
kualitas impor, dan berkantor di gedung mewah pencakar langit yang buas.
Impian itu hampir benar-benar terwujud sempurna. Sedikit lagi, tinggal beberapa
hari aku menunggu.”
Kepalaku dingin. Tubuhku bergetar hebat.
Kutekan kedua tanganku yang hampir melayang ke wajah pemuda itu. Dan aku tak
sadar lagi.
***
Pandanganku kabur. Semua yang terlihat hanya
berwarna serba putih. Entah sekarang aku dia alam mana. Tapi suasana ini tidak
asing bagiku.
“Pak, kami meminta hak-hak kami!”
“Pak, kami minta hak-hak kami!”
“Pak, berikan hak-hak kami!”
Suara bersahut-sahutan jelas sekali di
telingaku.
“Pak, saya Hutama Setiawan mewakili teman-teman
mahasiswa menuntut hak-hak kami.” Suara bariton yang juga tak asing bagiku
berbisik sangat dekat di telingaku. Tapi, tak ada satu pun orang yang kulihat.
“Pak Hutama, kami masuk ke Universitas ini
tidak gratis, kami bayar, Pak. Sekarang kami minta hak-hak kami.”
Suara-suara itu semakin jelas. “Lakukan dulu
tugasmu sebaik-baiknya, jadi mahasiswa yang benar, lalu ambil semua hakmu!”
jawabku pelan.
“Tapi, Pak bagaimana kami melakukan itu? Minum
itu butuh gelas, Pak. Bagaimana kami jadi mahasiswa yang baik kalo tidak
difasilitasi dengan baik? Pak, dengarkan suara hati kami!”
Suara-suara itu semakin lama semakin jelas dan
semakin keras hampir memecahkan gendang telingaku. Tapi, satu hal yang
membuatku bingung bahwa suara-suara itu semua berasal dari satu sumber.
Sepertinya aku sangat mengenalnya.
Sebuah sentuhan kurasakan di wajahku. Oh, itu
tangan istriku tapi, mengapa wajahnya tidak tampak? Bu…. Bu… bu…
Seluruh tubuhku bergetar. Lagi-lagi suara yang
tidak asing itu menggelegar di telingaku.
“Pak, berikan hak kami. Berikan hak kami! Hak
kami, Pak. Hak kamiiiiiii…….. hak kamiiiiii, Pak! Hak kami, berikan!
Berikaaaaaaan hak kami, Paaaaaaaaaaaaak!”
Suara itu hilang seketika. Aku tidak tahu
suara-suara apa itu? Kepalaku hampir pecah. “Huaaaaaaaaaaaaaaaah………………”
teriakku.
Mendengar teriakanku sendiri, aku jadi kaget
dibuatnya. Suara itu, kenapa sama?
Hutama Setiawan? Hutama Setiawan itu hanya aku.
Mataku terbuka pelan-pelan. Tampak kerumunan
orang-orang di sekelilingku semua berderai air mata. Lantunan ayat-ayat Tuhan
bersahut-sahutan. Kutatap kain kaci yang menyelimuti diriku. “Tuhan, apa
salahku?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar