Selasa, 07 Oktober 2014

Membayangkan Kau Pergi dari Kota dan Aku

Kemacetan jalan akan menelanmu. Isakku, akan diusik pekik dan deru kendaraan. Akan katup gemetar bibirku. Sehingga cukup bagimu jadi angin. Meski tubuh kota yang terbakar dan tercemar mengotorimu. Namun, ombak dan burung-burung gereja akan menjelaskan aku dengan cara yang lebih sederhana.

Anak-anak akan menanggalkan mainan lalu meninggalkan tubuhku. Seperti lonceng terakhir telah dibunyikan, sebelum sebuah sekolah dasar, tutup dan dilupakan. Siapa yang akan peduli—meski tubuhnya dimakan korupsi? Di kota, orang-orang telah mengganti kepala dengan brankas. Hanya yang kaya yang mereka dengar. Sementara aku, akan tetap punya kepala, akan tetap punya kau di dalamnya.

Aku tentu saja akan menguapkanmu. Tapi semua usaha itu hanya akan membuat kau menyentuh langit kepalaku, menebal, lalu jatuh dari mataku. Akan selalu begitu. Kau tak akan habis-habisnya di dalam aku. Maka aku akan menyusu pada minimarket yang tumbuh di tubuh kota bak wabah penyakit. Aku akan menyusut karenanya, sambil berdoa: Sebelum tiba hari kematianku, makanan instan sungguh-sungguh mampu merusak isi kepalaku.
5 ilusi: Membayangkan Kau Pergi dari Kota dan Aku Kemacetan jalan akan menelanmu. Isakku, akan diusik pekik dan deru kendaraan. Akan katup gemetar bibirku. Sehingga cukup bagimu jadi angin....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

< >