Kemacetan
jalan akan menelanmu. Isakku, akan diusik pekik dan deru kendaraan. Akan katup
gemetar bibirku. Sehingga cukup bagimu jadi angin. Meski tubuh kota yang
terbakar dan tercemar mengotorimu. Namun, ombak dan burung-burung gereja akan
menjelaskan aku dengan cara yang lebih sederhana.
Anak-anak
akan menanggalkan mainan lalu meninggalkan tubuhku. Seperti lonceng terakhir
telah dibunyikan, sebelum sebuah sekolah dasar, tutup dan dilupakan. Siapa yang
akan peduli—meski tubuhnya dimakan korupsi? Di kota, orang-orang telah
mengganti kepala dengan brankas. Hanya yang kaya yang mereka dengar. Sementara
aku, akan tetap punya kepala, akan tetap punya kau di dalamnya.
Aku
tentu saja akan menguapkanmu. Tapi semua usaha itu hanya akan membuat kau menyentuh
langit kepalaku, menebal, lalu jatuh dari mataku. Akan selalu begitu. Kau tak akan
habis-habisnya di dalam aku. Maka aku akan menyusu pada minimarket yang tumbuh
di tubuh kota bak wabah penyakit. Aku akan menyusut karenanya, sambil berdoa: Sebelum
tiba hari kematianku, makanan instan sungguh-sungguh mampu merusak isi
kepalaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar