Aku ingin menjadi napas
yang setiap kali bolak-balik di setiap jantung yang bernyawa
agar bisa menemani setiap jiwa yang sepi
menepuk-nepuk dari dalam tiap-tiap hati yang retak
Tapi
aku teringat
bukankah semua itu telah menjadi pekerjaan Tuhan selama ini?
Dia yang lebih dekat dari urat nadi di leher
yang selalu mengulurkan dua gelas madu mengapit setetes
pahitnya empedu
ulurannya selalu bersamaan tapi kita seringkali melihatnya
bergiliran
bahkan paling sering dengan sengaja tak ingin kita saksikan
Maka,
adakah cinta yang
lebih khianat
dari pengabaian seorang hamba kepada Tuhan-Nya?
Makassar, 8 Oktober 2014-02:09
Tidak ada komentar:
Posting Komentar